Terapi Gadget Holic Solusi Untuk Si Pecandu Gadget

Gadget holic adalah sebutan untuk para pecandu gadget. Mereka memegang dan berinteraksi dengan menggunakan gadget dalam waktu yang dominan per harinya. Tercatat di Amerika Serikat rata-rata orang dewasa menghabiskan 9 jam sehari bersama gadget. Sedangkan anak-anak di sana memakai waktunya bersama gadget selama 6,5 jam. Di Indonesia sendiri juga sama, orang dewasa menghabiskan 9 jam per hari bersama gadget. Sementara belum ditemukan data untuk anak-anak.

Hal yang berhubungan gadget ini menarik saya karena saya sendiri mengalaminya. Saya memakai gadget untuk bekerja, menulis buku, menulis status sampai berdagang. Anak saya juga sudah saya kenalkan gadget sedari dini, sejak umur 9 bulan. Semata-mata agar pekerjaan saya terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, saya tertarik memenuhi undangan Launching Gadget Holic Treatment dari Mom N Jo karena nantinya akan dibahas serba-serbi Gadget Holic dari sisi psikologis dan  kesehatan.

Acara yang diselenggarakan 20 Desember 2016 di Hall Mom n Jo Surabaya itu menghadirkan dua narasumber, yaitu Edwina Natalia, M.Psi dan Marybetts Sinclair, LMT. Acara ini terinspirasi dari pengalaman Direktur Utama Mom N Jo sendiri, yaitu Endah Wulansari. Anaknya, Rafa, sudah dikenalkan gadget sejak 2 tahun, dan beliau menyesal karena dampak buruk gadget yang baru diketahuinya saat anaknya berusia 10 tahun. Oleh karena itu, beliau mengajak para ibu untuk menimba ilmu tentang dampak pemakaian gadget dan penanganannya.

Dampak Gadget Bagi Psikologis Anak

Sebenarnya apa sih yang membuat para orang tua memberi gadget pada anak? Demi kepentingan orang tua atau anak? Saya yakin jawabannya demi kepentingan orang tua kemudian dialibikan demi kepentingan anak. Maksudnya biar orang tua dapat bekerja dengan tenang, toh anak juga mendapat manfaat bisa bertambah kosa kata bahasa Inggrisnya, bisa belajar warna. Iya tidak?

“Masa usia dini itu masa berkembangnya kecerdasan sosial anak. Anak butuh berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Jika anak hanya berinteraksi dengan gadget maka interaksinya hanya searah. Padahal interaksi sosial akan merangsang amigdala di otak. Amigdala itu berfungsi sebagai pusat kontrol, pusat emosi, pusat fokus. Anak sekarang itu fokusnya pendek, begitu dikasih gadget, amblas.” Edwina yang dipanggil akrab Mbak Wina itu menjelaskan.

Deg! Kalimat penjelasan membuat hati saya ngenes. Saya sudah kenalkan gadget pada anak pertama sejak bayi. Tujuan utamanya agar dia tidak rewel, bisa ditinggal masak, mandi, internetan. Pantas saja sekarang dia menjadi kurang fokus diajak bicara, emosinya juga gampang meledak-ledak. Ini karena salah asuhan sedari awal. Hiks!

Mbak Wina kemudian menjelaskan lebih lanjut. Anak yang sudah terlanjur dikasih gadget yang merupakan kesenangannya dan dunia indahnya itu, tidak bisa diputus begitu saja dari gadget lantas tidak dikasih apa-apa. Kita harus menggantinya dengan kesenangan baru yang positif. Misalnya hal-hal yang sesuai dengan bakat minatnya. Kita bisa memberinya buku. Bukan buku polosan dan monoton, tapi buku yang bisa interaktif, bisa bicara, bertekstur dan buku-buku kreatif lainnya.

Sebelum tidur bacakanlah anak buku cerita. Bukan omelan sebelum tidur. Jika dia tidak cepat mengantuk, maka buat kesepakatan dulu dengan anak. Misalnya, nanti jika sudah selesai baca cerita, segera berdoa untuk tidur dan memejamkan matanya.

Jangan khawatir anak akan gaptek, karena anak bisa belajar dengan sangat cepat. Yang bikin anak nggak bisa move on dari gadget justru dari kita sendiri sebagai orang tuanya. Ketika gadget diambil, harusnya kita bisa komitmen untuk tidak menampakkan gadget atau beraktivitas dengan gadget di hadapan anak. Atur waktu kapan kita pegang gadget kapan berinteraksi dengan anak.

Penggunaan teknologi masa kini harusnya disertai dengan tanggung jawab, karena ada dampak positif dan negatif dari teknologi itu sendiri. Sedangkan, anak di bawah 5 tahun itu masih belum mengerti tanggung jawab. Jika anak pertama kali dikenalkan dengan youtube yang didownloadkan, lama-lama dia bakal download sendiri. Dulu main game yang didownloadkan, sekarang tiba-tiba berubah ke game yang pro sehingga tagihan kita membengkak. Jadi, lebih baik jangan kenalkan gadget sama sekali jika anak belum mengerti. Jangan lupa berkomunikasi dengan baik, dan beri pengertian pada anak.

sounding gadget holic membuat kesepakatan dengan anak
Contoh membuat kesepakatan dengan anak

Dampak Buruk Gadget Pada Postur Tubuh

Pemateri selanjutnya adalah Marybetts Sinclair, LMT dari California, USA. Beliau adalah pengajar dan instruktur terapis pijat profesional yang telah berpengalaman lebih dari 40 tahun di 8 negara. Keahliannya khusus pada Pediatric Massage, Vision and the Bodyworker, serta Pencegahan Cedera. Kali ini beliau menjelaskan tentang dampak pelaku gadget pada postur tubuh.

20161220_112629-640x360

Kita seringnya memakai gadget pada posisi yang salah, sehingga lama kelamaan otot bisa lelah. Mungkin secara alamiah kali ya, kita bisa tidak sengaja membungkuk, mata mendekat kelayar. Jika ini terus terjadi, postur tubuh bisa membungkuk menyerupai kura-kura. Oleh karena itu, setiap selesai berinteraksi dengan gadget harus dilakukan peregangan, pemijatan, istirahat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Di bawah ini adalah gambar posisi yang normal, kemudian semakin ke kanan semakin bungkuk seperti kura-kura akibat posisi saat memegang gadget yang salah.

20161220_113743-1-640x509

Seharusnya, kita harus senantiasa memelihara posisi yang tepat saat berinteraksi dengan gadget. Misalnya mengetik dengan komputer. Duduklah dengan tegak, mata berhadapan lurus dengan layar dengan jarak sekitar 30 cm. Pastikan kaki menginjak tanah, bukan menggantung. Jangan lupa beristirahat setiap 30 menit.

20161220_113810-1-640x523

Terapi untuk gadget holic harus dilakukan di bagian leher, punggung, pundak, dan mata untuk mengatasi kelelahan otot setelah pemakaian gadget yang lama. Saat ini, di Mom N Jo sudah ada treatment baru untuk pecandu gadget. Namanya Gadget Holic Treatment. Treatment ini bisa dirasakan pria dan wanita, bahkan anak-anak mulai umur 3-4 tahun. Kita bisa merasakan nikmatnya pijatan terapi Gadget Holic selama 40 menit.

Nah, penasaran bukan treatment gadget holic seperti apa? Saya akhirnya menerapikan anak saya yang sudah terlanjur kecanduan gadget itu. Memang dia tidak pernah mengeluh, tapi saya bisa memahami kalau ‘hp-an’ seharian pasti lelah luar biasa, termasuk bagian mata.

Kami memasuki ruangan syahdu beralunan musik khas Jepang. Kemudian si mbak terapis menggendong anak saya naik di atas kasur terapi dan mempersilahkan membuka bajunya. Dengan lembut mbak terapis lalu memijat anak saya, Tsaqiif. Berulang kali ia memastikan apakah pijatannya sakit atau tidak. Eh, Tsaqiif bilang enggak, malah enak katanya.

gadget holic treatment mom n jo
Memutar-mutar leher agar otot lemas
terapi gadget holic
Pemijatan leher
Screenshot_2016-12-25-04-37-34-640x360
Pemijatan area bahu dan leher
pemijatan dada gadget holic mom n jo
Pemijatan dada
Screenshot_2016-12-25-04-39-13-640x360
Pemijatan punggung

 

terapi gadget holic
Pemijatan area mata untuk mengatasi mata lelah

Mau lihat suasana realnya yang tenang menghasut relaks? Yuk, simak videonya ^_^

Setelah selesai treatment, kami ditawari air putih atau jahe hangat? Saya memilih jahe hangat. Segar menghangatkan di cuaca mendung. Tahu tidak? Setelah Tsaqiif diterapi Gadget Holic, dia pengen terapi lainnya, yaitu mandi cokelat, hahaha. Senada dengan saya nih. Saya juga malah pengen merasakan boreh massage dan deep tissue massage seluruh badan.

20161224_180026-640x360

 

Nah, buat bunda yang ingin merasakan segar-bugarnya badan setelah terapi Gadget Holic Treatment ini bisa langsung reservasi ke Mom N Jo. Bunda bisa mengajak suami dan anak sekalian. Kata si mbak terapis, suaminya bisa juga diterapi asal ditemani bersama bunda. Beneran enakan loh, apalagi setelah tubuh kita pakai seharian bekerja menghadap laptop maupun smartphone. Berikut detailnya.

Mom N Jo Surabaya

Alamat: Jl. Prapanca No.36, Darmo, Wonokromo, Kota SBY, Jawa Timur 60241, Indonesia
Jam buka:  09.00–19.00 WIB
Twitter: @momnjosby

 

Be Sociable, Share!
Posted on: December 24, 2016, by : li partic

7 thoughts on “Terapi Gadget Holic Solusi Untuk Si Pecandu Gadget

  1. Hihihi after treamentnya sama ya, seperti spa orang dewasa. Air putih atau jahe. Jaheeee paling enak, segerrrr anget 😀

    Dan Tsaqiif pun ketagihan dipijat hahaha.

  2. Waah enak ya sepertinya diterapi dipijat.Meskipun masih anak anak main gadget terus, juga bikin lelah.Lelah mata dan pegal badan.Pemakainan gadget anak-anak masih dalam batas kewajaran.Kalau terlalu lama baru deh aku sita.

    1. Enak banget mbak. Tsaqiif lebih memilih pijat di Mom N Jo daripada di tempat yang ia biasa pijat. Oya, Kalau menurut pemateri, gadget harus segera distop tapi jangan dibikin mati gaya, ganti dengan aktivitas lain. Terus ortunya ga boleh pegang hp dihadapan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *