Month: December 2017

Mengungkapkan Cinta Pada Anak Harus Bervisi

Saya merasa takjub ketika mendengar wejangan dari Pak Imam T. Saptono, mantan Dirut sebuah bank syariah. Meski bukan tentang parenting, ia menceritakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus mempunyai visi ke depan. Kebetulan waktu itu beliau membahas tentang semangat bisnis. Tapi intinya sama jika dihubungkan dengan anak.

Beliau memotivasi bisnis dengan menghubungkan teori evolusi otak oleh Paul McLean. Otak manusia berevolusi dari otak yang paling sederhana seperti reptil, kemudian mamalia, primata, dan akhirnya sempurna seperti manusia yang sekarang. Kadang kita berperilaku seperti hewan, seperti modal nekat, dominan dengan cinta, itu karena masih ada bagian-bagian otak binatang dalam otak kita. Begitu teorinya.

Otak reptil, erat kaitannya dengan keberanian. Jalan apa adanya, asal hidup. Jika dihubungkan dengan anak, mengapa kita harus punya anak? Jika jawabannya karena takdir, lalu kita merawat anak tersebut apa adanya tanpa punya tujuan. Lakoni wae! Maka, status otak kita dominan otak reptil.

Otak mamalia seperti kucing, sapi, kuda, anjing melakukan segala sesuatu berdasarkan emosi dan cinta. Mengapa kita punya anak? Apakah hanya karena suka anak kecil? Ah, masa sama dengan otak sapi?

Otak primata seperti monyet, kera, orang utan berkembang lebih sempurna. Mereka lebih perhitungan. Kalau kita ditanya apa harapan dengan memiliki anak? Semoga dia jadi sukses, pengusaha kaya, jadi dokter biar hidupnya mapan. Hmmm. Siapa coba yang tidak mau punya anak seperti itu? Sekilas memang benar, tapi masih kurang tepat. Karena itu masih setara sama monyet!

Otak manusia berbeda kesempurnaannya karena dapat berpikir secara logis. Oleh karena itu, segala aktivitas harus dipikir jauh ke depan. Bukan hanya keuntungan dunia tapi juga sampai akhirat. Mengapa kita punya anak? Karena kelak kita akan bahagia bersamanya samai di akhirat nanti. Kia harus mempersiapkan ia hidup dengan baik di dunia dan sampai bisa berkumpul lagi di akhirat.

Teori Evolusi Otak – Triune Brain

Saya sangat setuju jika mempunyai buah hati pun harus disertai visi dan misi jauh ke depan. Itulah ungkapan cinta dari ibu seperti saya. Sehingga saya harus menyusun kehidupannya sejak dari awal kelahirannya. Ini dia 3 kunci ungkapan cinta anak ala saya.

Menyusuinya

Menyusui sejak hari pertama kehidupan si kecil di dunia memiliki dua manfaat sekaligus. Manfaat kesehatan ibu dan bayi dapat, manfaat pahala juga dapat. Karena menyusui juga merupakan ibadah. Setiap satu tetes air susu ibu tidak akan terbalaskan oleh jerih payah si anak seberat apapun itu.

Menyiapkan pendidikannya hingga mampu menjadi Hafidz Qur’an

Pendidikan penting untuk kehidupan dan karirnya ketika dewaasa. Menghafal Al-Qur’an juga tak kalah pentingnya. Ketika kita sebagai ibu tak yakin dengan amalan kita yang akan membawa kita ke surga, dengan memiliki anak yang hafidz Al-Qur’an, kita akan terseret ikut ke surga.

Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim).

Ini memang berat. Insya Allah saya optimis mengikuti step-stepnya mendidik anak agar sukses dunia akhirat. Nih bayangkan, anak diwisuda orang tuanya aja senang. Anak dapat medali orang tua senang. Apalagi diberi mahkota dan jubah oleh Allah. Pasti bahagianya berkali lipat dibanding di dunia. Iya kan?

Memerhatikan Kesehatannya

Memelihara kesehatan anak itu gampang-gampang susah. Harus memerhatikan asupan gizi yang dimakan. Pantangan pun juga jangan dilupakan. Jajan sembarangan, gorengan tak sehat, snack ringan yang bikin sakit tenggorokan itu juga susah-susah gampang. Ke diri kita orang dewasa saja sering tergoda. Apalagi anak kecil, kalau tidak dituruti bisa nangis. Bahkan tantrum, lho!

Kalau masalah penyakit memang kadang datang beberapa kali dalam setahun. Terutama radang tenggorokan. Tak jarang hal ini disertai demam. Yang jadi andalan saya selalu obat penurun panas. Saya punya Tempra Syrup.

Tempra ini ada berbagai macam sesuai umur anak. Kalau bayi pakai Tempra Drops, umur 2-6 tahun pakai Tempra Syrup. Sedangkan 6-12 tahun bisa pakai Tempra Forte. Kebetulan seumuran anak saya bisa pakai Tempra Syrup.

Kenapa Tempra? Ya karena pas dan aman.

-Aman di Lambung

Tempra merupakan paracetamol yang tidak menimbulkan efek samping seperti mual-mual atau meninggikan asam lambung.

-Tidak Perlu Dikocok

Tempra larut 100%. Tidak mengandung alkohol. Jadi kalau lupa ngocok-ngocok obat sirup ga perlu merasa bersalah. Sudah bener kok!

-Dosis Tepat

Dosisnya diciptakan sesuai umur dan takarannya. Tidak kerendahan juga tidak ketinggian. Jadi tidak berbahaya.

Tempra syrup
Ungkapan cinta saya terhadap si kecil dalam memelihara kesehatannya.

Ada baiknya kalau ibu selalu sedia Tempra di rumah dan juga dalam perjalanan ke luar kota. Ini juga sebagai ungkapan cinta ibu dalam memelihara kesehatannya. ^_^

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

Berawal dari Bali, Semoga Terwujud Keliling Nusantara Mendakwahkan ASI

Lebih dari seperempat abad umur hidup saya, saya belum pernah ke Bali. Padahal mama, adik, sepupu, teman-teman sudah pernah rekreasi ke sana. Beruntungnya tahun ini saya sempat menginjakkan kaki di sana, sebelum kejadian erupsi Gunung Agung.

Saya tidak berkunjung dalam rangka rekreasi ke kota-kota wisata terkenal seperti Denpasar, Ubud, atau Nusa Dua. Seorang ibu yang bermasalah dengan ASI-nya membuat saya dan teman saya mengunjungi Karangasem. Ya! Itu Kabupaten di mana Gunung Agung meletus. Wow! Sekali lagi saya merasa beruntung bisa menolong orang sebelum terjadinya bencana.

Begini ceritanya. Saya dan ibu tersebut kenal di media sosial. Dia mengeluh ASI-nya sedikit. Konseling lewat text pun sudah dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. Ibu ini disarankan untuk mencari konselor ASI terdekat. Biasanya ada lembaga peduli ASI di berbagai daerah di Indonesia, yang para konselor menyusuinya siap terjun konseling door to door. Namun, kebetulan konselor di Denpasar keberatan jika harus blusukan ke luar kota.

Mau tidak mau saya dan sahabat saya Arit dengan Yayasan Askar Ramadhannya harus mau terbang dari Surabaya ke Bali untuk konseling, dengan syarat ibu tersebut mau sekalian mengumpulkan ibu-ibu desa untuk diedukasi. Awalnya kita berencana mengadakan edukasi ASI pas dengan jadwal posyandu berlangsung karena pasti banyak yang datang. Tapi anehnya, kita yang mau ngasih ilmu, kita yang harus bayar sekian-sekian jika acaranya diadakan saat Posyandu.

Akhirnya kita mengadakan perkumpulan kecil saja. Waktu itu ada sekitar 10 orang yang datang. Sebelum acara dimulai, kami ngobrol-ngobrol sedikit tentang kebiasaan menyusui di sana. Kebanyakan ibu di sana tidak ASI eksklusif jika keluarnya tidak banyak. Bahkan sudah umum jika ada yang sudah disapih saat berumur 18 bulan.

“Sebenarnya ASI itu enak. Murah, ga usah beli susu. Tapi saya ga bisa ASI, ASInya ga keluar. Bayinya gak mau. Payudara saya sampai bengkak. Ini anaknya, susah belajar. Ga bisa baca, ga bisa tulis,” kata seorang ibu dengan dialek khas Balinya.

“Kalau bengkak itu ada ASInya, lho bu. Dulu gimana waktu melahirkan? Langsung disusui?”

“Ya biasa, habis lahir ya siram. Dimandikan. Baru pulang ke rumah baru disusui.”

Nah! Apakah Anda melihat dimana letak ketidaksempurnaannya?

Bidan tidak mengajarkan inisiasi menyusui dini (IMD). Tidak ada kontak segera dengan bayi hingga kepulangan ke rumah. Tidak ada yang peduli untuk membesarkan kepercayaan diri ibu. Tidak ada edukasi sebenarnya apa yang terjadi jika payudara bengkak. Jika hal itu ditangani dengan saran pemberian susu formula (sufor), maka masalah tidak akan selesai. Karena itu akan menjadi bola salju masalah yang terus bergulir dan membesar. Susu formula adalah candu. Setelah diberi sufor, bayi kekenyangan. Tidak ada demand terhadap ASI. Kesempatan merangsang produksi ASI hilang. Ibu panik. ASI tambah tidak keluar. Begitu seterusnya hingga bayi bingung puting.

Masih di Bali. Ibu yang curhat masalah ASInya, yaitu ibu yang mengundang kami ke sini, masalahnya lain lagi. Ia memang memberi ASI eksklusif. Tapi mengeluh ASInya sedikit.

Tapi ternyata apa? Kulit bayi kencang, dagingnya padat berisi. Saat dicoba untuk diperah, alirannya lancar. Berarti masalahnya hanya tidak percaya diri. Karena si ibu menilai dari hasil perahannya. Padahal ukuran itu tidak valid. Dan bukan sesuatu yang mendesak harus punya stok ASI banyak karena dia tidak bekerja.

Penjelasan produksi ASI oleh Arit Widowati, KL
edukasi asi bali, asi booster tea
Bersama Para Ibu Muda di Tanah Abang Karangasem, Bali

Well, itu baru satu lokasi pelosok. Belum pelosok lainnya, pasti ada masalah menyusui yang berbeda. Berdasarkan data International Baby Food Action Network (IBFAN) 2014, Indonesia menduduki peringkat ke-3 terbawah dari 51 negara di dunia yang mengikuti penilaian status kebijakan dan program pemberian makan bayi dan anak (Infant-Young Child Feeding). Untungnya, cakupan air susu ibu (ASI) eksklusif di Indonesia terus meningkat tiap tahun dan data terbaru menunjukkan 42%, masih jauh dari harapan. Jika dibandingkan dengan target WHO yang mencapai 50%, maka angka tersebut masihlah jauh dari target.

Dari pengalaman mendakwahkan ASI secara kecil-kecilan di Bali, rasanya saya masih ingin lagi berkeliling ke seluruh nusantara untuk mengedukasi tentang ASI pada ibu-ibu yang luput dari ilmu laktasi. Inilah yang menjadi resolusi saya di tahun 2018. Doakan saya agar tubuh saya kuat dan mendapat kelapangan rezeki ya!

Ngomong-ngomong tubuh yang kuat, saya akui tubuh ini ringkih alias gampang sakit. Kalau sudah sakit rasanya eman melewatkan waktu hanya di rumah. Padahal tahun depan saya juga punya segudang aktivitas berat. Selain cita-cita saya keliling Indonesia berdakwah ASI, saya juga harus bolak-balik antara Surabaya-Bogor untuk konsolidasi Roadshow serta Kopdar Saudagar Nusantara yang menargetkan 12.000 peserta itu. Fiuh… Membayangkannya saja sudah pusing, hehehe.

Langganan masuk angin, flu, hidung meler, kadang demam. Itu sudah harus siap-siap dihadapi. Nah, siap-siap juga cara mengatasinya. Tubuh yang sakit itu harus diikhtiarkan agar cepat sembuh. Sakit jangan kelamaan!

Siap Theragran-M di rumah dan…. koper!
Segar ceria karena sakit nggak kelamaan.

Theragran-M salah satu bentuk ikhtiar sembuh saya. Sudah tahu kan? Theragran-M adalah vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Hei! Bukannya kalau kena virus bisa sembuh sendiri? Iya, sih. Tapi vitamin dan mineral itu penting untuk mempercepat masa penyembuhan. Saat kita sakit pasti mulut terasa pahit. Ya, kaaan? Itu namanya tidak nafsu makan. Tidak ada asupan gizi masuk, otomatis vitamin juga nggak masuk. Yang ada, cadangan vitamin mineral dalam tubuh terpakai untuk mempersenjatai energi menyerang penyakit. Lama-lama bisa minus. Jadi, kita sangat butuh tambahan vitamin dan mineral, agar segera pulih dari sakit.

Yang saya suka dari Theragran-M itu dosisnya pas. Air kemih tidak terlalu pekat karena ketinggian dosis vitamin. Biar begitu, isinya lengkap. Dalam Theragran-M ada vitamin A, D, B1, B2, B3 (niasin), B6, B12, kalsium pantotenat, C dan E. Selain itu, halal dan gampang didapat di berbagai apotek termasuk apotek kecil dekat rumah saya.

Kalau Anda juga sering sakit, sedang sakit, ingat ya! Sakit jangan kelamaan!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.