Month: November 2016

Tabungan Emas vs Kredit Emas Itu Berbeda

Kebetulan beberapa bulan lalu saya mengunjungi Expo Keuangan Syariah di Royal Plaza Surabaya. Di sana digelar berbagai produk perbankan dari bermacam bank. Tidak hanya tabungan saja, tapi juga ada reksa dana, saham, tabungan haji/umroh, KPR, dll. Satu-satunya stan yang ‘bicara’ tentang emas ya Pegadaian.

Saya termasuk manusia yang juga tergiur dengan emas lantakan. Tapi saya sampai saat ini belum membelinya. Juga tidak menyicilnya. Saya berniat menabung, nanti suatu saat jika sudah mencukupi akan saya belikan emas. Tapi kenyataannya tabungan itu terus tergerus untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Emas tak kunjung terbeli.

Sebenarnya kalau mau kredit emas bisa sih, tapi menurut saya itu tinggi risiko karena:

  • Harus ada uang muka. Biasanya minimal 20%.
  • Ada bunganya, jadi kita bisa bayar lebih mahal kalau ditotal.
  • Kena penalti, jika dilunasi lebih awal.
  • Lelang, kalau kita kita nggak bisa bayar.

Dan menurut saya, menyicil emas itu bukan pilihan yang tepat karena:

  1. Bukan kebutuhan yang mendesak. Emas itu didiamkan bukan dipakai. Tidak seperti sepeda motor atau mobil yang masih bisa dimaafkan jika harus memilikinya dengan kredit. Seharusnya kan kalau investasi beli semurah-murahnya agar saat jual lebih untung. Kalau kita terburu-buru memiliki emas sementara kita belum mampu dan memaksakan diri dengan kredit bisa lebih besar pasak dari tiang.
  2. Menurut keyakinan saya, emas itu dilarang dikredit meski ada embel-embel cicilan syariahnya. Emas harus dibeli secara kontan.

Di stan Pegadaian itu ada penawaran cicilan emas dan tabungan emas. Kalau cicilan emas, kita beli emas harganya fix sekian rupiah saat itu juga, tidak peduli nanti harganya naik atau turun, tapi membelinya dikredit. Kalau tabungan emas, prinsipnya kita membeli emas secara kontan, minimal dengan berat 0,01 gram emas dengan harga Rp. 5000an, dengan dititipkan dulu ke Pegadaian. Hanya saja, ini ikut kurs jual beli emas, harga emas tidak fix seperti kredit. Misalnya nih per tanggal 28 November 2016 harga 0,01 gram emas adalah Rp. 5.460. Jadi kita bisa setor tabungan emas sebesar Rp. 5.460, atau bisa juga lebih misalnya Rp. 20.000 nanti dihitungkan dapat emas beratnya berapa. Atau juga bisa kita genapkan kelipatan, misalnya 0,04 gram emas, uang yang harus disetor berarti 0,04 x Rp. 5.460. Akhirnya, saya pilih menabung emas di Tabungan emas Pegadaian. Prosesnya mudah kok.

cara menabung emas

Lalu, bagaimana mencairkannya? Kita bisa mencairkan dengan menjual emas yang kita tabung ke Pegadaian, dengan minimal jual 1 gram. Jadi saldo emas harus 1 gram dulu baru bisa dicairkan. Selain itu, kita bisa mencetak dalam bentuk emas batangan, bisa 5 g, 10g, 25g, 50g, 100g. Ada biaya cetak sesuai kepingan yang dipilih.

Tabungan emas pegadaian
Terakhir saya menabung emas, saya setor Rp. 50.000 dapat emas sekitar 0,09 gram

Gimana? Tertarik menabung emas? Tinggal datang saja ke Pegadaian.

Pendakwah ASI Blusukan

Arit Widowati. Sudah lama aku mengenalnya. Mungkin sekitar 4 tahunan, aku mengetahuinya lewat facebook. Membaca status-status facebooknya, mempelajari sharing-sharingnya di grup facebook khusus orang tua yang peduli kehidupan anaknya. Aku mengenalnya hanya sebatas di layar kaca, sejak dia punya satu putri, hingga sekarang yang hampir punya anak kelimanya di usia cantiknya. Tapi baru kali ini aku berinteraksi lebih dekat di sebuah kajian tentang menyusui di sebuah masjid.

Aku dan dia ternyata tinggal di kota yang sama, dan profesi sambilan kami juga sama, yakni konsultan menyusui. Bedanya, dia aktif menyosialisasikan ASI di lingkungannya, baik tempat kerjanya, daerah tempat tingalnya, maupun daerah-daerah lain. Sedangkan aku hanya fokus mengedukasi lewat bisnisku saja.

Saat ini aku memenuhi undangannya mengikuti kajian ASI-nya. Aku diminta bergabung dalam organisasi yang dia rintis untuk turut berdakwah ASI bersamanya. Tapi sebelum aku mengatakan iya, aku ingin tahu dulu bagaimana ia menyampaikan edukasinya.

Melihatnya berbicara di dekat mimbar masjid, saya jadi ingat gayanya di adegan film dokumenter “Donor ASI”. Dalam adegan itu, dia baru datang dari kantornya. Ia menyambut anaknya yang berumur satu tahun yang kelihatan sangat menantikannya. Namun tak disangka bayinya malah menangis, dan langsung disusui. Kala itu, ia sedang hamil anak keduanya. Namun bayinya yang belum genap dua tahun itu harus diberi ASI bagaimanapun caranya. Kisah perjuangannya mendapatkan donor ASI didokumentasikan dalam film itu. Beruntung, film Donor ASI berhasil memperoleh Piala Citra di Festival Film Indonesia 2011.

Tawa-tawa kecil terdengar, sehingga lamunanku tentang film itu terbuyarkan. Ternyata peserta tergeli sendiri mendengar penjelasan Arit.

“Banyak ibu yang memilih PAHE alias Paket Hemat kalau melahirkan.”

Kukira PAHE yang disebutnya adalah paket persalinan dengan fasilitas minim, seperti fasilitas non VIP tanpa AC, kulkas, atau kamar mandi dalam di ruang perawatannya. Tapi ternyata aku salah.

“Ibu biasanya memilih paket hemat hamil dan melahirkan saja. Kadang ibu mengabaikan paket lengkap sesuai kodrat ibu lainnya seperti menyusui dan mendidik anak-anaknya. Dengan mudahnya ibu memasrahkan pada orang lain soal menyusui dan mendidik anak-anak,” lanjutnya.

Pernyataan yang cukup menampar. Karena umumnya memang begitu. Awalnya ibu merasa ASI-nya tidak keluar di awal kelahirannya, karena minim ilmu, ia tidak berikhtiar memperbanyak ASI dan menutupi kekurangan ASI-nya dengan susu formula. Padahal, justru susu formulalah yang menyebabkan ASI bertambah tidak keluar. Bayi sudah kenyang dengan susu botol, menjadi enggan menyusu. Lama-lama dia tidak kenal lagi dengan payudara ibunya, produksi ASI semakin tidak dirangsang, sehingga berhenti total, tidak mengalir sama sekali.

Arit Widowati memberikan kajian bertema “Peduli ASI Bagi Generasi Islami”

Sebenarnya, Arit bukanlah tenaga kesehatan. Ia merupakan karyawati di Direktorat Jenderal Pajak. Ia tertarik soal ASI dan menyusui sejak kehamilan pertamanya, tepatnya Juni 2009. Ia melahirkan anak pertama di bulan Maret 2010. Saat bayi pertamanya berumur lima bulan, ia hamil lagi anak kedua. Namun sayang, hampir semua dokter melarangnya menyusui selama kehamilannya.

Hati Arit berontak. Ia yakin anugerah Allah yang berupa kehamilan keduanya tidak mungkin merugikan kakaknya yang masih berhak mendapat anugerah Allah lainnya berupa ASI. Hingga suatu saat ia mengetahui istilah nursing while pregnancy (NWP) atau menyusui saat hamil dengan syarat tertentu yang sudah umum di luar negeri. Akhirnya Arit memutuskan untuk melakukan NWP. Namun, produksi ASI semakin berkurang karena kehamilannya. Oleh karena itu, ia mencari donor ASI.

Pada tahun 2012, Arit berkesempatan mengikuti pelatihan konselor menyusui yang diadakan oleh AIMI. Arit berpikir bahwa akan lebih mudah memberikan sosialisasi tentang ASI jika ia memiliki sertifikat konselor. Terlebih, karena ia bukan tenaga medis, melainkan hanya ibu yang punya pengalaman dengan ASI dan banyak membaca.

Setelah lulus pelatihan konselor, ilmu Arit semakin bertambah. Ia menjadi tahu bagaimana langkah-langkah menghadapi ibu-ibu yang akan konseling dan teknik-teknik konselingnya yang tidak bisa didapatkan hanya dari membaca. Arit berharap dengan menjadi konselor bisa memudahkan langkahnya dalam memberi manfaat lebih untuk masyarakat, khususnya tentang ASI dan menyusui. Masih banyak pemahaman keliru di masyarakat yang harus diluruskan. Apalagi dengan melihat semakin gencarnya promosi susu formula.

Banyak orang bilang usia 30 tahun ke atas merupakan batas zona nyaman. tidak mungkin seseorang meraih yang lebih baik lagi setelah apa yang dicapainya pada usia ini, karena usia selanjutnya fisiknya akan semakin lemah, penampilan menariknya berkurang, postur tubuh berubah. Ada juga yang menganggap masa muda adalah kejayaan, sehingga wajar jika seseorang sudah 30 tahun ke atas merasa tubuh dan wajahnya berubah jauh dibanding masa lalunya, sehingga putus asa menjalankan hidup apa adanya. Namun tidak dengan Arit Widowati. Pada usianya yang ke-36 sekarang ini, prestasi dakwah ASI-nya semakin gemilang. Wanita yang tengah mengandung anak kelimanya itu semakin cantik dengan perannya mengedukasi ASI terutama ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah.

Arit menamakan program dakwah ASI-nya dengan nama Sentra Laktasi Muslimah (SALMA). SALMA merupakan organisasi nirlaba muslimah yang bertujuan untuk menyelamatkan generasi penerus umat yang shalih dan kuat dengan meningkatkan pengetahuan, informasi tentang ASI dari sudut pandang Islami serta meningkatkan persentase ibu menyusui di Indonesia. SALMA bernaung di bawah Yayasan Askar Ramadhan Divisi Dakwah Laktasi, yang dikelola suaminya.

Sebagian dana dari donatur Yayasan Askar Ramadhan digunakan untuk menjalankan program SALMA, terutama dalam rangka dakwah ASI membantu para ibu menyusui yang miskin dan dhuafa dengan terjun langsung ke masyarakat.
Kegiatannya saat ini adalah Dakwah ASI on the road, konsultasi ASI dan menyusui gratis, kelas ASI blusukan gratis ke kampung-kampung disertai dengan pembagian sembako, dan sinergi dengan beberapa komunitas pejuang ASI dalam kampanye ASI.

Dakwah ASI on The Road di Alun-Alun Sidoarjo
Dakwah ASI Blusukan dan Pembagian Sembako

Tak hanya berdakwah untuk kalangan tidak mampu, Arit juga mengampanyekan ASI di lingkungan kerjanya. Dulu kegiatan Arit dan teman-temannya memerah ASI di kantornya dilakukan di gudang, dapur, ruang rapat, mushalla, bahkan toilet. Ngomong-ngomong soal toilet, kita tidak mungkin makan dalam toilet, tetapi tempat itu terpaksa dipakai untuk memerah makanan untuk bayi. Menyedihkan, bukan?

Pada suatu saat, ada pejabat yang sangat mendukung ASI sehingga membuatkan ruang laktasi pertama di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur I, yaitu Daru Kuswardhani, Kepala Subbag Umum di KPP Madya Surabaya tempat Arit berkerja. Di ruang laktasi itulah Arit dan teman-temannya mulai sering berkumpul memerah ASI, saling berbagi, dan memberi dukungan. Kemudian mereka menyadari pentingnya  sebuah komunitas yang bisa mewadahi dan menjadi tempat bersatunya para ibu bekerja yang ingin saling memberikan dukungan dalam berjuang memberi ASI pada anaknya meski bekerja.

Akhirnya pada hari Jumat, 24 Mei 2014, di ruang aula green room KPP Pratama Surabaya Rungkut digelar sebuah acara wisuda ASI untuk anak-anak yang sukses ASI eksklusif 6 bulan (lulus S1 ASI), S2 ASI (lulus ASI 1 tahun) dan S3 ASI (lulus ASI 2 tahun). Tak luput, seorang dokter yang juga konselor ASI diundang sebagai narasumber. Dalam acara wisuda ASI ini juga dinyatakan berdirinya Komunitas Mamaperah DJP yang tetap berusaha eksis hingga hari ini. Komunitas ini beberapa waktu sekali mengadakan edukasi gratis di lingkungan kantor tentang kehamilan dan menyusui.

Salah satu kegiatan Komunitas DJP Mamaperah

Kehidupan Arit di usia cantik tidak hanya bersinar karena pancaran transfer ilmu ASI untuk sesama. Arit juga transfer ASI untuk yang membutuhkan. Setelah melahirkan anak kedua dan ketiga, ASI Arit sangat melimpah, sehingga ia donorkan ke beberapa bayi. Per hari ini Arit memiliki 14 anak susuan, di antaranya ada yang meninggal 1 anak, 2 kembar, dan 4 anak menyusu langsung kepadanya.

Menapaki usia yang lebih matang, seharusnya kita mampu memberdayakan diri untuk semakin berprestasi. Aku sendiri salut pada Arit tentang bagaimana ia mengatur waktu di tengah jadwalnya yang padat di #UsiaCantik. Karena ia ibu bekerja, masih sempat mendidik empat anaknya, mempersiapkan kelahiran anak kelimanya, mengatur waktu memerah ASI, dan mengabdikan diri pada masyarakat. Semoga kisah sahabatku, Arit Widowati, bisa menginspirasi kita semua agar dapat memberi manfaat terhadap sesama.

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.

Meresapi Makna 52 Tahun Pembangunan Kesehatan Indonesia dan Perjuangan Selanjutnya

Assalamualaikum :) Sudah tahu belum, sebentar lagi adalah Hari Kesehatan Nasional yang diperingati setiap 12 November? Ingat Hari Kesehatan, saya jadi ingat tentang pencapaian bangsa kita dalam program kerjanya yang sudah merdeka tahun ini.

Pembangunan Indonesia, terutama di bidang kesehatan sangatlah luas bidang kerja yang harus dikerjakan. Tak ada puasnya, tak ada habisnya. Karena dari waktu ke waktu selalu muncul permasalahan-permasalahan baru. Sejak kapan pembangunan kesehatan dilaksanakan? Tentunya di era setelah Indonesia meraih kemerdekaannya.

Mari kita lihat sejarah masa lalu. Di era tahun 50-an Indonesia menghadapi wabah besar, yaitu penyakit malaria. Maka, dari masalah itu penanganan terkonsentrasi untuk menghadapi wabah malaria. Tahun demi tahun berjalan, muncul masalah baru tapi juga diikuti inovasi strategi penanganan masalah yang baru. Kita lihat diagram berikut.

Tahun 1959

Sudah disinggung sebelumnya, kita bangsa Indonesia pernah mengalami wabah di tahun 50-an. Wabah yang berat dan merata seluruh Indonesia, yakni Malaria. Penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal. Pada tahun 1959 dibentuk Dinas Pembasmian Malaria, tentunya bertujuan untuk mengeliminasi wabah malaria. Malaria dibasmi dengan penyemprotan obat DTT di daerah Jawa, Bali, dan Lampung. Tanggal 12 November 1959, Presiden Soekarno melakukan penyemprotan malaria secara simbolis di Yogyakarta. Tanggal ini merupakan cikal bakal Hari Kesehatan Nasional.

Penyemprotan Malaria oleh Presiden Soekarno. Sumber: depkes.go.id

Tahun 1963

Tepatnya pada Januari 1963, Dinas Pembasmian Malaria berubah menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM). Usaha memerangi malaria ini dilakukan oleh pemerintah bekerja sama dengan WHO dan USAID.

Tahun 1964

Pada tanggal 12 November 1964 diputuskan sebagai Hari Kesehatan Nasional pertama. Hari ini merupakan momentum pendidikan dan penyuluh kesehatan.

Pelita I (1969-1974)

Pada tahun 1970, malaria ditargetkan hilang dari bumi Indonesia. Namun tak hanya malaria, saat itu muncul masalah angka kematian bayi yang besar. Setiap 1000 bayi lahir, ditemukan 125-150 yang meninggal sebelum umur 1 tahun setiap tahunnya. Namun di sisi lain, ada prestasi membanggakan mengenai penyakit cacar yang juga menjadi momok. Di era Pelita I ini ditemukan vaksin kering oleh Prof. Dr. Sardjito dan didistribusikan ke daerah tertentu di Indonesia. Hasilnya, pencacaran ini dibilang sukses.

Pelita II

Masalah kesehatan belum selesai. Pemerintah terus membangun kesehatan dalam hal sarana, tenaga pelayanan kesehatan, mengurangi penyakit, meningkatkan status gizi, memperbaiki sanitasi agar masyarakat hidup sehat sejahtera.

Pelita III (1978-1983)

Pada era ini, angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) terbilang tinggi. Namun ada yang berhasil secara signifikan, yakni program KB. Tingkat kesuburan turun, angka kelahiran turun dari 2,7% menjadi 2%. Selain itu, ada beberapa program mulai berjalan yaitu Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD), Posyandu, dan Penyuluhan Kesehatan.

Tahun 1990-an

Pada tahun 1993 larangan merokok mulai dilarang. Ada kewajiban bagi produsen rokok untuk mencantumkan tulisan bahaya merokok di kemasan produk. Dalam penanganan HIV, salah satunya adalah kampanye untuk tidak diskriminasi terhadap penyandang HIV. Kemudahan dalam mendapatkan obat, difasilitasi pemerintah dengan peluncuran obat Generik. Gizi masyarakat ditingkatkan melalui berbagai program seperti GAKI Iodium, tablet tambah darah untuk anemia, zat besi, pemberian kapsul Vitamin A dan Energi Protein.

Pada tahun 1995, diluncurkan program Pekan Imunisasi Nasional yang mendapat sambutan dari masyarakat. Tujuan utama program PIN ini agar anak Indonesia terbebas dari polio.

Paradigma Sehat (1998 – 2009)

Jika tahun-tahun sebelumnya membangun kesehatan berarti memerangi penyakit dan menyembuhkan penderita, maka di era Paradigma Sehat, pembangunan kesehatan berorientasi pada visi baru Indonesia: Visi Indonesia Sehat 2010, dimana masyarakat Indonesia mampu mencegah penyakit. Dengan demikian diharapkan masyarakat sehat secara mental, fisik, spiritual, dan lingkungannya.

Tahun 2005- 2014

Pembangunan kesehatan telah sejalan dengan visi kabinet Indonesia Bersatu, yaitu Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan. Visi Kementerian Kesehatan tahun 2010 – 2014 ini adalah “Mewujudkan Masyarakat yang Mandiri dan Berkedaulatan.” Sedangkan fokus pembangunan kesehatan adalah meningkatkan akses masyarakat ke pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu. Untuk mewujudkan visi kabinet tersebut, Kemenkes telah merumuskan visi, misi, nilai-nilai, strategi, sasaran serta program prioritasnya.

Beberapa program yang diluncurkan yaitu: Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkeskas); Desa Siaga, Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dilaksanakan juga berbagai penanganan seperti: Flu Burung, Imunisasi, DTPK, PDBK dan Eradikasi Polio.

Pencapaian yang membanggakan terulang di era ini. Sertifikat bebas polio diberikan oleh WHO untuk Indonesia. Dulu di tahun 1974, Indonesia dinyatakan bebas cacar.

Tahun 2015-2019

Kini pembangunan kesehatan dilanjutkan di era kabinet Jokowi. Pembangunan kesehatan tidak lagi bervisi nasional, tetapi juga bervisi global. Pada era millenium ada visi yang disebut Millenium development goals (MDGs) yang ditargetkan selesai tahun 2015. MDGs memiliki delapan target pembangunan, antara lain: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; mencapai pendidikan dasar untuk semua; mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup; dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Kenyataannya setelah mencapai titik tahun 2015, pencapaian Indonesia masih jauh di bawah target. Misalnya angka kematian ibu, belum memenuhi target 2015. Namun sudah ada penurunan jika dibandingkan sebelumnya.

Indonesia harus terus berjuang dengan misi global baru setelah MDGs, yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dalam misi SDGs terdapat 17 tujuan yang terbagi ke dalam 169 target dan kurang lebih 300 indikator dalam tiga dimensi, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi. Ketujuh belas tujuan itu adalah:

17 Tujuan Global. Sumber: www.globalgoals.org
17 Tujuan Global. Sumber: www.globalgoals.org
  1. Tanpa Kemiskinan: Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
  1. Tanpa Kelaparan: Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
  1. Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan: Menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.
  1. Pendidikan Berkualitas: Menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang, menjamin pendidikan yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.
  1. Kesetaraan Gender: Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.
  1. Air Bersih dan Sanitasi: Menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang.
  1. Energi Bersih dan Terjangkau: Menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang.
  1. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak: Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
  1. Industri, Inovasi dan Infrastruktur: Membangun infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi.
  1. Mengurangi Kesenjangan: Mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah negara maupun di antara negara-negara di dunia.
  1. Keberlanjutan Kota dan Komunitas: Membangun kota-kota serta pemukiman yang inklusif, berkualitas, aman, berketahanan dan bekelanjutan.
  1. Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab: Menjamin keberlangsungan konsumsi dan pola produksi.
  1. Aksi Terhadap Iklim: Bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.
  1. Kehidupan Bawah Laut: Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.
  1. Kehidupan di Darat: Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
  1. Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian: Meningkatkan perdamaian termasuk masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab untuk seluruh kalangan, serta membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di seluruh tingkatan.
  1. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan: Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Dari 17 tujuan tersebut terdapat empat poin penting yang menjadi perhatian khusus sektor kesehatan, yaitu:

  1. Poin 2: Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta mendorong pertanian yang berkelanjutan.
  2. Poin 3: Menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.
  3. Poin 5: Menjamin kesejahteraan gender serta memberdayakan seluruh wanita dan perempuan.
  4. Poin 6: Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi yang berkelanjutan bagi semua orang.

sdgs indonesia

Dalam mencapai tujuan global berkelanjutan di sektor kesehatan yang tercermin dalam 4 poin tersebut, Kementerian Kesehatan Indonesia telah merumuskan beberapa sasaran dan menetapkan indikator kesuksesannya. Hal ini telah tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.

Peningkatan Gizi Masyarakat

Peningkatan gizi yang pertama, indikatornya ditunjukkan oleh angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Angka kematian ibu ditargetkan pemerintah akan menurun dari 3559/100.000 kelahiran menjadi 70/100.000 kelahiran di tahun 2030. Selama ini kematian ibu yang baru melahirkan dikarenakan kualitas pelayanan kesehatan ibu yang belum memadai, kondisi ibu hamil yang tidak sehat dan faktor determinan lainnya.

Penyebab utama kematian ibu yaitu hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan setelah melahirkan (post partum). Penyebab ini dapat diminimalisasi apabila kualitas Antenatal Care dilaksanakan dengan baik. Selain itu, pemberian tablet tambah darah, pemberian makanan tambahan, dan pengadaan kelas hamil juga telah dicanangkan untuk mengurangi angka kematian ibu. Namun, pada kenyataannya, masih jarang yang mengetahui tentang kelas hamil ini, sehingga masyarakat kurang teredukasi tentang masalah kehamilannya, harus berbuat apa untuk memberdayakan dirinya selama kehamilan, setelah melahirkan harus seperti apa. Masyarakat Amerika Serikat sudah familiar dengan kelas kehamilan dan istilah doula (tenaga non medis pendamping persalinan). Mungkin ini patut dicontoh, misalnya tidak hanya memberdayakan puskesmas, tetapi juga harus ada kerja sama dengan pihak swasta. Dengan demikian, ibu hamil tahu nutrisi apa yang dibutuhkan, gerakan-gerakan yang bermanfaat untuk proses persalinan, sampai tentang ASI. Biasanya ibu-ibu minim sekali pengetahuan tentang ASI, karena kelas hamil hanya membahas tentang kehamilan saja.

Dalam 5 tahun terakhir, Angka Kematian Neonatal (AKN) tetap sama yakni 19/1000 kelahiran, sementara untuk Angka Kematian Pasca Neonatal (AKPN) terjadi penurunan dari 15/1000 menjadi 13/1000 kelahiran hidup, angka kematian anak balita juga turun dari 44/1000 menjadi 40/1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian pada kelompok perinatal disebabkan oleh Intra Uterine Fetal Death (IUFD) sebanyak 29,5% dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 11,2%, ini berarti faktor kondisi ibu sangat berpengaruh. Kembali lagi pada edukasi ibu selama hamil dan pemberian makanan tambahan tinggi protein sangatlah penting.

Kejadian balita kurus (wasting) pada tahun 2013 sebesar 12,1%. Pemerintah menargetkan persentase ini akan turun menjadi 5% pada 2025. Untuk gizi bayi pada 1000 hari pertama kehidupannya, nutrisi setelah lahir perlu diperhatikan, yaitu hanya ASI selama 6 bulan pertama yang disebut ASI Eksklusif. Pemerintah menargetkan ASI Ekslusif dan inisiasi menyusui dini menjadi 50% di tahun 2019.

Kenyataannya banyak hambatan untuk bisa ASI Eksklusif. Edukasi memang sangat diperlukan, terutama bagi ibu hamil. Mereka harus tahu bahwa di balik ASI yang seolah-olah tidak keluar di hari pertama bayi lahir sebenarnya ada kolostrum yang tak terasa mengalir dalam jumlah yang sangat sedikit. Namun, bayi bisa bertahan selama 3 hari tanpa tambahan makanan lain. Di sinilah lingkaran setan dimulai. Saat si ibu panik ASI tidak keluar, kemudian bidan atau tenaga kesehatan lain yang biasanya ditarget oleh perusahaan susu, menawarkan susu formula pada ibu. Pemerintah harus mengeluarkan sanksi untuk tenaga kesehatan seperti ini. Dan peraturan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit harus disosialisasikan dengan baik agar menjadi fasilitas yang ramah ibu dan ramah bayi. Jika bayi sudah tercemar susu formula, maka ASI tidak terangsang keluar, dan inilah yang akan dijadikan alasan kebanyakan ibu tidak bisa memberi ASI. Selain sanksi pada tenaga medis yang menghambat ASI eksklusif, pemerintah juga harus mengeluarkan peraturan cara pembelian susu formula. Indonesia patut mencontoh luar negeri, dimana susu untuk bayi harus diresepkan dokter.

Cuti melahirkan di Indonesia adalah 3 bulan. Untuk pemenuhan ASI eksklusif tidak perlu menunggu aturan cuti 6 bulan, tetapi berilah peraturan kelonggaran ibu bekerja untuk memompa ASI. Misalnya aturan istirahat atau pemberian kesempatan untuk memompa ASI setiap 2 jam sekali. Selain itu, penambahan fasilitas menyusui di ruang publik diadakan, misalnya dengan mencanangkan peraturan kewajiban ruang menyusui di setiap instansi.

Sistem Kesehatan Nasional

Kehidupan yang sehat dinilai dari bebas penyakit menular maupun tidak menular. Untuk penyakit menular, diprioritaskan pada penyakit HIV/AIDS, tuberculosis (TBC), malaria, demam berdarah, influenza dan flu burung. Tingkat kasus penyakit HIV/AIDS terus meningkat pada usia 15-49 tahun. Pada awal tahun 2009, prevalensi kasus HIV pada penduduk usia 15 – 49 tahun hanya 0,16% dan meningkat menjadi 0,30% pada tahun 2011, meningkat lagi menjadi 0,32% pada 2012, dan terus meningkat manjadi 0,43% pada 2013. Angka CFR AIDS juga menurun dari 13,65% pada tahun 2004 menjadi 0,85 % pada tahun 2013.

Pemerintah juga masih berjuang mengendalikan penyakit neglected diseases seperti kusta, filariasis, leptospirosis, dan lain-lain. Angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti polio, campak, difteri, pertusis, hepatitis B, dan tetanus baik pada maternal maupun neonatal sudah sangat menurun. Pada tahun 2014 Indonesia sudah mendapat sertifikat bebas polio.

Penyakit tidak menular utama meliputi hipertensi, diabetes melitus, kanker dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jumlah kematian akibat rokok terus meningkat dari 41,75% pada tahun 1995 menjadi 59,7% di 2007. Rokok telah menjadi gaya hidup yang konsumtif. Bukan bagi orang kaya saja. Menurut survei ekonomi nasional 2006 disebutkan penduduk miskin menghabiskan 12,6% penghasilannya untuk konsumsi rokok. Untuk masalah rokok ini kini ada kewajiban peringatan yang lebih menyeramkan melalui visualisasi organ terinfeksi kanker di kemasan rokok. Beberapa public figure dan cancer survivor dilibatkan dalam kampanye anti rokok agar banyak yang sadar. Peraturan pemerintah seperti Pemda juga sudah dilibatkan untuk melarang merokok di ruang publik. Sayangnya, peraturan itu hanya ada di segelintir kota-kota besar. Kota-kota kecil bahkan yang terpencil tidak ada peraturan ini.

Gambar menyeramkan di kemasan rokok. Sumber: Tempo.co

Untuk penyakit-penyakit gaya hidup seperti hipertensi, asam urat, kanker, diabetes melitus pemerintah mulai berorientasi pada pencegahan. Hal ini nampak pada kampanye Hari Kesehatan Nasional yang menyampaikan pesan penting, yang diantaranya makan makanan seimbang, dan gerak yang cukup. Dilihat pada kenyataannya penyakit gaya hidup ini disebabkan karena pola makan yang tidak sehat dan kurang olah raga. Hanya saja, jangan sampai kampanye sehat seperti ini euphorianya hanya berlaku di ibukota-ibukota saja (dibuktikan dengan adanya perayaan berupa seminar dan event-event seru lainnya). Kampanye sehat ini harus terasa sampai pelosok pedalaman.

Pedoman Umum Gizi Seimbang. Sumber: ide-sy.blogspot.com

Selain penyakit fisik, juga ada penyakit jiwa. Penyakit jiwa ini juga bisa berdampak pada kesehatan fisik. Data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional (gejala-gejala depresi dan ansietas), sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas. Berarti terdapat lebih dari 14 juta jiwa penderita gangguan mental emosional di Indonesia. Sedangkan untuk gangguan jiwa berat seperti gangguan psikosis, prevalensinya adalah 1,7 per 1000 penduduk. Hal ini berarti lebih dari 400.000 orang menderita gangguan jiwa berat (psikotis). Pada tahun 2012 ditemukan bahwa angka bunuh diri sekitar 0.5 % dari 100.000 populasi, ini berarti kurang lebih 1.170 kasus bunuh diri dilaporkan dalam satu tahun. Hal yang terutama untuk kesehatan jiwa adalah mengembangkan Upaya Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat (UKJBM) yang ujung tombaknya adalah Puskesmas dan bekerja bersama masyarakat, mencegah meningkatnya gangguan jiwa masyarakat.

Pentingnya Akses dan Pelayanan Kesehatan

Penanganan penyakit fisik menular dan tidak menular, serta penyakit jiwa erat kaitannya dengan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Pemerintah merencanakan peningkatan jumlah Puskesmas dan Rumah Sakit Umum sampai ke daerah terpencil beserta tenaga medis yang kompeten. Setidaknya Puskesmas ynag memiliki lima jenis tenaga medis yang awalnya 1.015 ditingkatkan menjadi 5.600 pada tahun 2019. Rumah Sakit Umum Kabupaten Kelas C yang memiliki 7 dokter spesialis ditargetkan meningkat dari 25% menjadi 60% di tahun 2019. Tak hanya mengenai jumlah, kemampuan para tenaga kesehatan juga ditingkatkan melalui pelatihan.

Menurut saya, pelatihan dan magang memang perlu. Namun pintar saja tidak cukup untuk memuaskan pasien. Fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit harus memerhatikan:

  1. Kebersihan. Kebersihan merupakan pertimbangan pasien untuk memilih fasilitas kesehatan. Coba bandingkan rumah sakit yang kumuh dengan rumah sakit yang berasitektur moderen. Bahkan beberapa orang yang mampu lebih memilih berobat ke Singapura atau China daripada di rumah sakit dalam negeri.
  2. Kecepatan Administrasi. Cepat lambatnya mengurus administrasi, agar tidak bertele-tele, dilempar kesana kemari hanya untuk mengurus administrasi harus dipertimbangkan.
  3. Keramahan. Tenaga medis baik perawat, bidan, dokter selain kemampuannya yang kompeten, harus diimbangi dengan keramahan. Entah sudah standar atau bukan, dokter di UGD atau pelayanan kelas bawah biasanya lebih galak. Pasien perlu dihibur karena penyakitnya, bukan disalahkan, apalagi diperlakukan semena-mena. Saya pernah mendengar cerita pasien gangren yang luka kakinya menetes-netes, tidak diperlakukan dengan baik, malah dimarahi karena mengotori lantai dan kakinya dihempaskan ke dalam keranjang sampah untuk mencegah darahnya tidak berceceran. Pasien yang agak bandel misal tidak melakukan saran dokter dengan benar dimarahi terang-terangan, dan masih banyak kasus lainnya.

Kemudian tentang obat, pada periode 2010-2014, telah dimulai upaya perbaikan manajemen logistik obat dan vaksin, misalnya penerapan e-catalog dan inisiasi e-logistic obat. Adanya sistem ini bisa memantau ketersediaan obat secara real time dan manajemen yang lebih mudah. Pada tahun 2013, e-catalog telah dimanfaatkan oleh 432 Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan rumah sakit pemerintah, serta menghemat anggaran penyediaan obat hingga sebesar 30%. Sedangkan e-logistic telah dipakai oleh 405 instalasi farmasi Kabupaten/Kota.

Kebutuhan nasional akan obat sekitar 90%-nya diproduksi dalam negeri. Hanya saja, kita belum mandiri sepenuhnya karena bahan baku yang digunakan masih impor. Angka impor bahan baku farmasi itu cukup tinggi, yaitu 96%. Sebenarnya, kita memiliki bahan alam yang berlimpah. Kita harus bisa lebih intens memperbanyak penelitian dan pengembangan tanaman obat serta obat tradisional.

Kesejahteraan Gender dan Pemberdayaan Wanita

Tujuan kesejahteraan gender di bidang kesehatan ini dicerminkan dengan menghilangkan praktik-praktik berbahaya. Misalnya pernikahan anak, pernikahan dini, dan terpaksa. Pemerintah mengadakan edukasi melalui Puskesmas tentang kesehatan reproduksi. Edukasi ini ditargetkan akan meningkat menjadi 45% pada tahun 2019 dari yang awalnya 21% pada tahun 2014.

Ketersediaan Air Bersih dan Sanitasi

Pada tahun 2010 proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air layak minum adalah 45,1%. Terjadi peningkatan di tahun 2013 menjadi 59,8%. Sedangkan akses sanitasi dasar yang layak pada tahun 2013 adalah 66,8%. Hal ini berarti ada peningkatan 55,5% dari tahun 2010. Demikian juga dengan pengembangan desa yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai upaya peningkatan penyehatan lingkungan, capaiannya terus mengalami peningkatan.

Perlu ada edukasi merata tentang pengelolaan sampah dan limbah, dengan prinsip 3R (reuse, reduce, recycle). Prinsip pengelolaan sampah yang benar akan menciptakan lingkungan yang sehat sehingga air tidak tercemar. Hal ini terkait erat dengan ketersediaan air bersih. Prinsip 3R ini sudah dijalankan di kota-kota tertentu. Tetapi masih ada saja yang belum sempurna. Keaktifan di PKK sangat berpengaruh pada program ini. Sayangnya tidak semua tingkat RT melaksanakannya. Misalnya dalam perumahan yang sama ada RT yang melaksanakan pemisahan sampah dan program daur ulang sampah organik menjadi kompos, namun di RT lain dalam perumahan tersebut tidak menerapkan. Bahkan di perumahan yang lebih elit, pengelolaan sampah tidak begitu diperhatikan. Di  kota kecil atau bahkan pedesaan, masyarakat yang rumahnya dekat dengan sungai setiap harinya membuang ke sungai selama bertahun-tahun.

Begitu banyak ‘PR’ yang harus dikerjakan pemerintah untuk menyejahterakan penduduknya yang tersebar di wilayah seluas 1,9 juta km2 ini. Mari kita bantu dengan kesadaran akan kesehatan diri sendiri dan keluarga. Jangan lupa makan makanan sehat dengan gizi seimbang, konsumsi sayur dan buah setiap hari, lakukan aktivitas fisik atau olah raga teratur, jaga kebersihan, serta cek kesehatan dengan rutin.

 

Sumber:

http://promkes.depkes.go.id/

http://www.globalgoals.org/id/

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019. Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Kesehatan Dalam Kerangka Sustainable Development Goals. Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.

Kuajarkan Kau Tentang Kebangkrutan dan Semangat Bangkit

Suara tiba-tiba hening. Padahal nampaknya baru lima menit yang lalu di belakang rumah terdengar suara gaduh. Gemericik air keran, dentingan piring beradu, sendok bertalu-talu. Kini senyap. Kemana anakku? Rasanya ia masih mengoceh bersama kesibukannya di belakang. Bergegas aku menuju halaman belakang, tempat aku biasa mencuci piring. Dan kutemukan anakku dalam keadaan berendam. Di dalam bak cuci piring. Namun ada damai terpancar dari wajahnya. Mulutnya setengah terbuka. Dadanya kembang kempis dengan napas yang dalam. Matanya terpejam!

Ia bukan pingsan. Hanya tertidur karena lelah terlalu sibuk di dapur. Namun, di balik tidurnya terasa teduh seakan-akan pohon beringin menaunginya meski ia berada di ruang terbuka. Mungkin aku harus menyesal karena kurang pengawasan terhadapnya.Tapi sesal tidak mungkin membawa guna. Kenapa bisa sampai begitu, kenapa bisa tidur nyenyak dalam keadaan yang aneh, kenapa aku membiarkannya bermain sendiri. Waktu pun sudah berlalu tidak mungkin terulang lagi. Dengan memandangnya, yang ada hanya iba, dan bayangan masa depannya.

Tsaqiif, bunda tidak tahu, bahkan semua orang pasti tidak tahu bagaimana masa depanmu. Namun semua orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang sukses, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Sukses sangat erat kaitannya dengan kebebasan finansial. Ya, walau kau saat ini tidak tahu apa itu bebas finansial, tapi kamu jelas bahagia jika kamu bisa membeli Hotwheels, baju, sepatu, buku, Lego sesuka hati, berapapun dan kapanpun kamu ingin memilikinya.

Jika ingin sukses belajarlah dari pengalaman. Jika ingin bebas finansial berwirausahalah. Bunda masih ingat sewaktu bunda kecil. Bunda sering merengek minta dibelikan mainan, sama sepertimu. Bahkan sampai awal masa remaja, masih suka minta dibelikan. Sampai-sampai kakekmu menyindir, “Kok beli-beli terus? Coba jual-jual.”

Sindiran itu berdampak hebat pada kehidupan bunda sekarang. Sejak sindiran kakekmu itu di masa kecil bunda, bunda jadi berpikir. Bukankah enak menjual hal-hal yang sedang booming, kemudian uangnya bisa dibelikan majalah-majalah remaja favorit bunda di kios tengah kota. Jadilah saat itu bunda mulai membeli kertas file yang gambar dan bentuknya unik-nik dan lucu-lucu. Ada Mickey Mouse, Pembalap, Winnie The Pooh, Hello Kitty dan lainnya.

Selepas masa kuliah, tidak ada perusahaan satu pun yang mau menerima lamaran bunda. Hingga pada akhirnya bunda dilamar oleh ayahmu. Bunda iyain aja, bunda pikir lumayan kan masih 20-an tahun sudah nikah, nggak perlu bebanin orang tua lagi. Karena bunda di rumah saja, insting jualan bunda kumat, dengan iseng bunda membuka online shop dan distributor pulsa tahun 2010 dulu. Kemudian kamu lahir di tahun berikutnya, bunda jadi tidak sempat mengurus toko online. Bunda juga menemui masalah, merasa tidak bisa memenuhi haus dan laparmu dengan ASI. Namun itu anugerah karena masalah itu mengantarkan kita pada kesuksesan yang hampir 100% seperti saat ini. Seperti kau tahu dan telah mengalaminya sehari-hari. Kamu selalu ikut bunda dalam memenuhi urusan bisnis bunda, yaitu minuman pelancar ASI yang nyaman bagi ibu menyusui.

Tsaqiif selalu ikut kemana pun termasuk nganter-nganter dagangan dan kulakan
Tsaqiif selalu ikut kemana pun termasuk nganter-nganter dagangan dan kulakan

Kesuksesan tidak diraih begitu saja. Kesuksesan juga merupakan akibat belajar dari pengalaman. Sebelumnya, bunda pernah gagal dalam menjalankan bisnis server pulsa. Salah satu penyebabnya adalah bisnis dijalankan dengan asal, tanpa tujuan. Tanpa business plan, just let it flow. Padahal tujuan dan goal dalam business plan itu penting. Sama halnya dengan pelari yang sedang bertanding. Dia selalu punya tujuan mau finish dimana, tidak mungkin berlari terus tanpa tahu arah dan kapan berhentinya. Bisnis itu sukses pada awalnya, namun begitu menemui masalah dan kelemahan di tengah jalan akhirnya bangkrut. Modal pinjaman dari bank belum profit, bahkan bunda harus melunasinya. Ah, saat ini kamu kan belum mengerti apa itu profit dan rugi. Tapi kamu betah nonton youtube berlama-lama. Kamu suka nonton Superwings, Paw Patrol, Peppa Pig, Thomas, Robocar Poli. Pasti kamu juga akan mereplay berulang-ulang video animasi yang pernah bunda buat 3 tahun lalu ini. Kisah singkat tentang lahirnya bisnis bunda yang baru, setelah gagal dengan bisnis yang lama.

Bunda ingin kamu pada saatnya nanti bisa berwirausaha meneruskan bisnis bunda atau merintis bisnis sendiri. Lihatlah, sudah ada beberapa pengusaha cilik. Moziah Bridges dengan bisnis dasinya, Hart Main dengan usaha lilin kalengnya, atau yang di Indonesia ada Wilson Tirta yang di usia 13 tahun sudah punya bisnis properti, kuliner, dan online shop. Tak usah bingung, bunda akan menyiapkan bisnis baru untukmu nanti. Bunda persiapkan dari sekarang. Almarhum kakekmu, beberapa waktu sebelum meninggalnya pernah berkeinginan untuk merintis usaha bumbu nasi kebuli. Tester sudah dibagikan ke kerabat-kerabatnya. Semua menyukainya. Bunda ingin meneruskan niat itu. Setidaknya, ilmu cara membuat bumbu kebuli yang kakek ajarkan terpakai, Insya Allah akan menjadi amal jariyah untuknya.

Sebenarnya bisnis bumbu nasi kebuli akan banting setir menjadi bisnis kuliner. Tahukan, nak? Bisnis kuliner tidak ada matinya. Bunda pernah ajak kamu ke mall, food courtnya selalu penuh pengunjung. Berarti peluang usaha kuliner itu besar. Bunda akan buat konsep nasi kebuli dalam booth dan food truck. Sepertinya belum ada di kota ini, dan kita akan menjadi pelopor.

Sebagai langkah pertama, pastinya bunda akan menyiapkan business plan. Bunda akan tentukan sisi kelemahan dan kekuatan nilai jual nasi kebuli kita. Setelah itu, bunda akan cari supplier untuk kebutuhan bisnis ini. Yang mudah saja caranya, tak usah terlalu rumit sampai harus survei ke berbagai daerah. Bunda pernah dengar ada website B2B atau business to business, disana dijual berbagai peralatan dan bahan untuk memenuhi sebuah bisnis. Tentunya sangat berbeda dengan website e-commerce B2C aau C2C yang  sering bunda gunakan untuk belanja online, terutama kalau menjelang lebaran. Ya, bunda sering buka Zalora, Lazada, dan Tokopedia. Jangan harap kita akan menemukan supplier bahan dan peralatan untuk bisnis kita yang baru ini di website seperti itu.

Ralali B2B Marketplace namanya. Bunda tahu dari teman bunda yang sempat mengulasnya, karena dia juga akan membuka bisnis baru. Setelah teman bunda itu bercerita caranya membuka usaha, bunda jadi ingin tahu apa itu Ralali. Ternyata di sana ada berbagai supplier yang sangat lengkap. Bagaimana tidak lengkap kalau 10.000 pembeli loyal, lebih dari 1.600 vendor, dan 75.000 produk ada di sini? Dan semua transaksi aman, praktis, dan transparan. Jika ingin membuka salon, bisnis furnitur, buka bengkel, restoran atau apapun, kulakan barangnya bisa dari Ralali.com. Tidak cuma produk, kalau mau buka bisnis jasa juga bisa. Misalnya bisnis ticketing pariwisata, ada juga nih di Ralali.com.

Karena usaha yang akan kita rintis adalah kuliner, bunda coba klik kategori food & beverage serta Horeca alias hotel, restoran, dan cafe. Ya Allah, lengkapnya. Segala macam beras ada. Beras putih, beras organik, beras merah, beras hitam. Bunda jadi kepikiran bagaimana kalau kita membuka booth nasi kebuli sehat bermodalkan beras merah atau beras hitam?

Kategori-kategori produk di Ralali.com
Kategori-kategori produk di Ralali.com

Kemudian bahan lain yang bunda butuhkan adalah bumbu dan packaging. Yes! Packaging available, jinten ada, kayu manis ada, sereh ada, bawang juga ada. Cuma satu yang tidak ada: kapulaga. Sayang, ya. Padahal bunda sudah senang. Eh, tunggu dulu. Ini kok bunda nemu tulisan, katanya bunda bisa request apa yang dibutuhkan jika tidak ada. Alhamdulillah nemu jalan keluarnya.

ralali request

Dalam bayangan bunda, meski bunda ingin kau jadi wirausahawan, kamu juga masih wajib menuntut ilmu yang tinggi. Bunda jadi ingat, saat bunda mengisi materi Talkshow Kehidupan Setelah Kuliah di kampus almamater bunda dulu. Bunda menyampaikan pengalaman usaha bunda dan tentang dunia enterpreneur seperti apa. Hari itu juga ada materi lain oleh pembicara ahli seputar dunia kerja dan dunia pendidikan tinggi setelah lulus sarjana. Di penghujung acara, peserta yang calon sarjana itu ditanya mau pilih jalur yang mana. Mereka masih lebih tertarik pada dunia kerja. Yah, mungkin juga karena risiko dunia usaha tidak kecil. Atau mungkin juga semangat kewirausahaan mereka kurang terpupuk. Padahal menjadi pengusaha itu seru dan membahagiakan jika kita sudah mencapai goal. Dari situlah bunda belajar, bahwa bunda juga harus memikirkan dan mengarahkan masa depanmu agar gemilang. Tsaqiif, lanjutkan tidurmu, nak. Nanti kalau sudah bangun, main sama bunda lagi, ya.