Kisah Silaturahmi Pengantar Rezeki Emas

Rezeki emas

Katanya silaturahmi itu membawa rezeki. Ternyata bukan sekadar katanya atau mitos belaka, lho. Hal ini berdasarkan riwayat hadits, salah satunya yang ini.

Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)

Kebetulan atau sesuatu yang dibetulkan (sudah diatur-Nya) kisahku yang satu ini karena silaturahmi atau bukan, hanya Allah yang tahu. Tentu banyak faktor, dan aku berpikir silaturahmi salah satunya.

Ketika itu, aku sedang hamil. Aku mempersiapkan persalinan sealamiah mungkin tanpa campur tangan medis jika tidak diperlukan. Oleh karenanya aku mencari bidan yang berpengalaman sekaligus dapat menjadi doula persalinan. Aku mencari bidan terdekat, dan yang paling dekat adalah bidan di kota sebelah. Jaraknya lumayan bisa 1-2 jam.

Aku memutuskan untuk home birth, melahirkan di rumah ala primitif alias zaman dulu. Trauma penanganan di rumah sakit waktu kelahiran anak pertama menjadi penyebabnya. Tapi jangan salah. Meski primitif jangan dibayangkan aku bakal bersalin seperti dengan dukun beranak. Tempat persalinan kusiapkan dengan rapi dan bersih. Segala antisipasi kedaruratan juga telah disiapkan seperti infus, mobil, juga packingan tas untuk ke rumah sakit.

Menghubungi bidan tersebut sangat susah meraih kata sepakat untuk bertemu karena jadwalnya sangat padat. Selain bekerja di rumah sakit, beliau juga menangani pasien pribadi yang ingin home birth. Akhirnya kami bertemu juga dan sepakat dengan bidan itu berbulan-bulan sebelum hari H bersalin. Aku masih menyiapkan rencana lain. Rumah sakit mana yang kutuju untuk bersalin jika bidan yang bersangkutan tidak bisa. Aku juga tak lupa memikirkan bagaimana metode mencapai rumah sakit tersebut. Tentu saja aku harus shopping, pilah-pilih dulu rumah sakit mana yang ramah ibu dan bayi. Yang mendukung persalinan normal dulu sebelum tindakan lain, yang mendukung pemberian ASI untuk bayi.

Tibalah hari H yang mana aku mulai merasakan kontraksi lembut, lalu lama-lama menjadi kuat. Berdasarkan pengalaman anak pertama, aku mulai merasakan kontraksi malam hari dan melahirkan esoknya malam hari juga. Jadi jangan terburu-buru ke rumah sakit jika kontraksi belum rapat jeda waktunya.

Kontraksi yang lembut itu dimulai tengah malam. Dan bidan yang sudah janjian denganku itu, tidak bisa menemaniku. Aku pun bersiap-siap menuju rumah sakit. Saat kontraksi menyerang aku bergerak seaktif mungkin agar kepala bayi cepat turun. Saat tidak ada kontraksi rahim aku melanjutkan packing-packing, bersih-bersih. Tak terasa 6 jam lamanya aku tak bisa tidur. Saat itu sudah jam setengah tujuh pagi. Kontraksi pun semakin kuat. Aku menahan diri untuk mengejan. Tapi dorongan itu terlalu kuat, sehingga aku dengan instingku mengejan dengan sendirinya dalam posisi merangkak. Air ketuban pecah, sepertinya kepala bayi mau nongol. Hanya saja masih kutahan sekuat tenaga. Duh, aku belum sarapan pula!

Suami langsung mencari bidan terdekat. Ternyata jaraknya hanya beberapa meter dari rumah. Beliau memeriksa tetapi tidak menerima lahiran. Beliau sudah siap dengan seragamnya untuk dinas di klinik. Untung saja belum berangkat, sehingga bisa menolongku. Dengan sigap ia meminta aku berbaring. Satu posisi yang tidak kusuka. Tapi apa daya aku tak sempat berargumen, si kecil minta segera keluar. Alhamdulillah dengan sekali mengejan, si kecil keluar dengan selamat tanpa ada masalah.

Meski tak sempat makan apa-apa, aku belum nafsu makan pada akhirnya. Tapi harus kupaksa makan kurma sebagai penambah energi. Aku yang tak pernah didulang suami, mendadak suami menjadi mau. Anugerah!

Inilah persalinan impianku yang 50%-nya keturutan. Persalinan yang nyaman di rumah, tanpa guntingan episiotomi, tanpa bius. Alhamdulillah semua dimudahkan Allah. Awalnya tak kukira akan secepat ini lahirnya, karena kuperkirakan siang atau sore baru pembukaan sempurna. Berkali-kali kuucap syukur karena banyak pihak yang membantu.

Berkah Silaturahmi

Aku teringat kejadian-kejadian sebelumnya. Satu bulan sebelum aku melahirkan banyak kejadian duka. Hal itu menjadikan banyak pelawat menemuiku, dan diakhiri kata-kata doa. Semoga lancar lahirannya. Satu bulan sebelum aku melahirkan juga merupakan momen hari raya Idul Fitri, dimana aku berkumpul bersama keluarga besar. Aku juga mengunjungi saudara-sadara dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua berkata, “Semoga lancar lahirannya.”

Alhamdulillah, silaturahmi menjadi pengantar rezeki. Jika ada yang menganggap emas tak ternilai harganya, maka kelahiran anak kedua ini adalah rezeki yang tak ternilai harganya bagaikan emas. Rezeki emas yang dipenuhi kemudahan.

Be Sociable, Share!
Posted on: March 31, 2016, by : li partic

4 thoughts on “Kisah Silaturahmi Pengantar Rezeki Emas

  1. saya jadi teringat kenangan masa lalu saat keguguran.. :'(
    membuat Trauma dan takut melahirkan saat hamil ke-2.. tapi Alhamdulillah lahir dengan normal..

    Alhamdulillah dedeknya mbak lahir dengan jalan normal.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *