Ketika Terpaksa Nonton Film Bunda

Acha Septriasa is back. Akhirnya ia kembali mewarnai layar lebar setelah sekian lama tidak muncul. Ia memerankan Bunda Tika (owner busana muslim Keke) dalam Film Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi. Seingat saya ia terakhir muncul tahun lalu dalam film Kartini. Tapi bukan tokoh utama. Dan dua tahun lalu dalam film keluarga juga: Sabtu Bersama Bapak.

Di Surabaya saya bisa nonton duluan alias prescreeningnya tanggal 7 Februari 2018 kemarin. Film ini menceritakan tentang hubungan keluarga antara suami dan istri, anak-anak dengan ayah bundanya. Dan… Orang ketiga dalam rumah tangga. Tentang pelakor kan lagi hits sekarang. Tapi ini bukan pelakor loh ya. Orang ketiga itu tidak merebut. Hanya sekadar bumbu-bumbu cinta hohoho.

Mayoritas yang sudah nonton duluan Film Bunda bilang ini tentang perjuangan Bunda Tika membangun bisnis baju muslimnya. Tapi menurut saya ini lebih menonjolkan emosi antar anggota keluarga. Bukan cerita pamer kesuksesan seseorang.

Film Bunda diklaim sebagai inspired by true story. Bukan based on true story. Jadi apa yang diceritakan di dalam film ada benarnya, ada juga gak benarnya. Yang jadi agak nggak masuk akal, tapi penonton gak terasa banget, ada pada ending. Bunda Tika lagi di Jakarta. Ayah Farid dan anak-anak ada di Jakarta juga tapi di bandara. Terus kirain gitu ya Bunda bakal ngejar ke Bandara Eh, gak taunya pulang ke Bogor. Ayah Farid dan anak-anak juga tahu kalau Bunda lagi di Jakarta. Tapi tanpa kontak-kontakan mereka juga pulang ke Bogor. Mungkin itulah yang dinamakan keluarga seharmoni sehati hahaha.

Ada beberapa poin semi-semi curhat tentang film ini. Dibaca monggo, gak dibaca juga monggo, tapi wajib komen :p

Ada Keterpaksaan Nonton dan Harus Paksa Diri

Film ini film berat karena keluarnya Februari. Lihat pesaingnya. Ada Dilan 1990, London Love Story, Eifel I’m In Love 2. Semuanya film ehemm. Saya gak bilang film gak bermutu, tapi minim pesan, minim hikmah. Cewek bervisi kayak saya gak cocok nonton film cinta-cintaan. Saya kan udah punya cinta, semoga sampai ke surga ya Yah. #eaaa #mulai.

Kalau bukan bolo dhewe, saya gak bakal mau ribet nonton film lagi. Ribet sama anak-anak sih. Tapi mengingat Film Bunda ini film bermutu, produsernya temen sendiri bukan dari India, patutlah ya didukung. Biar Indonesia semakin berdaya di negeri sendiri. Aamiin.

Sumpah saya bukan resellernya. Reseller itu orang yang dibayar atas hasil kerjanya yang bikin laku barang. Mana ada orang yang nawarin dagangan orang tapi mempertaruhkan kosmetik koleksinya, sedangkan dia sendiri gak dapat untung? Fyi, yang beli tiket melalui saya bisa milih loh kosmetik yang harganya 18.000-55.000.

Saya nawarinnya ribet. Mungkin lingkaran di sosmed yang kenal Kang Rendy Saputra gampanglah ya diajak nonton. Lah ini saya nawarinnya di luar lingkaran itu. Yang gak kenal banyak!

“Silahkan bantu nonton film ini, bantuin promotornya, keadaan ekonominya sedang labil.” Begitu celoteh saya sama teman-teman media.

Ada juga yang nggak suka genrenya. Sebagus apapun film kalau gak suka genrenya ya udah gak usah dipaksa. Bayangkan, orang penakut diajak nonton film horor gimana? Gak bisa dipaksa, kan?

Bahkan ada yang gak ngerti promosiku. “Mas, beli tiket ini dapet produk Keke. Tak tambahin kosmetik deh.”

“Produk Keke maksudnya apa mbak?” gitu jawabnya. Wasalam dah.

Semoga di masa depan saya bisa booking studio dan mengajak orang lain yang kurang mampu nonton gratisan di film-film lain. Aamiin.

Bantuan saya sekarang cuma bisa ngajak dan atau bayarin teman-teman buzzer, bloger, media. Ah, dulu saya sempat bilang ke kakang produser, “udah ada kerjasama sama bloger pecinta film?”. Dan mau bilang kalau diundang ke premier person to person biasanya kami komit review. Tapiiii ya gitu deh. Gak sempet. Ga sempet berlanjut. Ngomongnya di komen sih hahaha.

Bismillah #CintaDuaKodi

A post shared by Rendy Saputra (@kangrendy) on

Pokoknya kalian yang baca ini harus terpaksa nonton. Demi bangsa. Pasti akan jatuh cinta setelahnya.

Judul Pendek yang Kepanjangan

Pendeknya, Film ini disebut Film Bunda. Tapi kepanjangannya, bikin ambigu menyebutnya. Judulnya yang asli Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi. Nah, postingan Instagram Ario Bayu pemeran Ayah Farid menandakan ambiguitas judul film. Dia menulis caption seperti ini. Kata”Kisah”nya hilang:

“Aku percaya semua yang besar, berawal dari hal yang kecil. Seperti sinar ini, berawal dari sebuah titik, lambat laun berubah menjadi matahari”
Bunda: Cinta Dua Kodi
Di bioskop seluruh Indonesia #cintaduakodi

Yaaa.. Kali aja ada film terusan. Sekarang yang seri Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi. Mungkin nanti ada Bunda: Kisah Donor ASI. Aku pemeran utamanya wkwkwk.

Ada 3 Srikandi

Dalam trailernya seperti didominasi nangis-nangisan. Haru, menyentuh memang iya. Tapi bagi saya itu hanya efek merinding kena dinginnya ruang bioskop disambil menyelami hikmah yang jleb banget.

Hadirnya wanita-wanita Bojong bagai pahlawan wanita yang tak dinantikan tapi membuat suasana segar. Gokil lucunya! Apalagi dengan adanya Mumuk Gomez dan Rima Gembala. Meski lucu tapi porsinya pas. Gak kebanyakan sehingga kita lupa akan kematian.

Bukan Film Religi

Tokoh utama memang berjilbab. Tapi bukan menjadikan ini adalah film berbau agama. Ini murni film keluarga. Hikmah yang bisa dipetik misalnya: anak harus paham perjuangan orang tua membesarkan anak, Orang tua jangan maksakan kehendak aja tanpa peduli perasaan anak, dll. Puanjang, banyak yang jleb. Gimana enggak, kisahnya mirip gue banget. Yang jaga anak-anak ayahnya, yang sering ada kegiatan ibunya. Tapi ada prinsip ayah Farid yang mulia ada padaku. Pemaaf, mengajarkan maaf dan terima kasih. #Eaaa #ngaku-ngaku hahaha.

Ada cacatnya gak?

Mungkin akan sedikit saya bandingkan dengan Dilan 1990 yang sudah 4 jutaan penonton itu di awal Februari. Meski bandingin harus apple to apple, jeruk ya sama jeruk, terutama dari genre filmnya. Kedua film tersebut ada kesamaan.

Di novel Dilan (bukan filmnya) ada cerita bahwa Dilan ngefans Khomeini sehingga memajang posternya di dinding kamarnya. Bukan karena paham agamanya tetapi semangat mengobarkan revolusi, begitu yang disebut dalam novelnya. Kemudian virallah bahwa Dilan diselipkan ajaran sekte sesat.

Nah, di Film Bunda ada satu yang saya kurang pas dengan adegan tiup lilin kue ulang tahun. Well, bicara masalah ini nggak usah terlalu berat ambil pendapat dari ustadz yang saya cintai tapi dituduh pemecah belah umat. Cukup dari Ustadz Abdul Somad misalnya. Ini pendapat beliau terkait tiup lilin yang merupakan ritual non-islam.

Tapi sebenarnya adegan tiup lilin ini hanya merupakan adegan transisi, lho. Jadi bukan masalah yang besar yang dapat membuat orang ilfeel. Karena umur anak bertambah, Bunda Tika kasih kejutan untuk masa depannya. Itu intinya. Tidak ada perayaan sama sekali. Bahkan kuenya lupa dipotong hahaha.

Kejutan untuk anak-anak dari Bunda

Masih ada yang ilfil sama penulis

Lihat status teman, lalu ada yang ragu mau nonton gara-gara penulis novelnya. Ya sih, saya paham. Terkait kejadian 2015 lalu. Gara-gara itu lalu semua dipukul rata. Fyi, penulis novel dan penulis skenario itu beda. Meski ada film yang mana penulis skenario ya penulis novelnya juga (macam Dilan).

penulis skenario film bubda kisah cinta dua kodi
Penulis skenario Fim Bunda

It has nothing to do with that. Mari berlepas diri dari itu. lepaskan prasangka. Lihatlah siapa yang dikisahkan. Siapa yang terlibat. Lihatlah apa isinya. Lihatlah ke bioskop wkwkk.

Untuk Semua Umur

Membandingkan dengan Film Sabtu Bersama Bapak (SBB) yang merupakan film keluarga, awalnya saya belum berani mengajak anak-anak nonton. Soalnya di film SBB, masih ada kisah cinta alias pacar-pacaran. Siapa tahu di film ini gitu juga. Soalnya sekarang ini anak TK saya kalau liat bentuk hati, terus ada cewek dan cowok dia bilang”Cieee cinta… cinta..” Jadi khawatir, kan?

Nah, di Film Bunda ini nggak sama sekali. Aman 100%. Film keluarga yang membawa pesan baik, dan reccommended. Jadi bawa anak ya silahkan.

Bahkan ada anak balita yang nonton film ini nyeletuk berceloteh lucu saat Bunda Tika marah-marah. “Mamanya marah-marah.” Spontan seisi bioskop pun tertawa.

Jomblo, tepatkah nonton film ini?

Tepat banget. Biasanya kan jomblo tuh ngarep dapat pasangan. Biar gak sembarangan dapat pasangan lihatlah film ini. Berkiblat pada tokoh utama, Bunda Tika. Dia cari pasangan sudah kayak jalanin bisnis aja. Calon pasangannya dianalisis. Pake Analisis SWOT pula. Apa kelebihan dan kekurangannya. Bagus gak buat masa depan. Walau gak mapan tapi sevisi di masa depan, hayuk aja.

Kesimpulannya, gak nyesel nonton film ini. Oke banget. Segera ke XXI, 21, CGV yaa.

Be Sociable, Share!
Posted on: February 9, 2018, by : li partic

6 thoughts on “Ketika Terpaksa Nonton Film Bunda

  1. Sepulang dari nonton suamiku bilang gini, karakter Bunda persis kamu!

    Makjleb, hahaha..

    Baru tau di sini kalau film ini ada kontroversi dengan penulis bukunya. Buat aku sih film ini layak ditonton, terutama Bunda. Ayah juga sih. Oh, anak-anak juga disarankan.

  2. Nonton film ini bareng pak Rizal Affendi, walikota Balikpapan, karena menang kuis bikin pantun di akun FB beliau dan bisa masuk ruangan VVIP, dapat kaus kaki dan coklat pula.

    Aku ingat tersedu-sedu nonton film ini. Tapi sudah lupa pas adegan yang mana ya… :)
    Untung bawa tissu…

    Dari film ini juga belajar betapa bahayanya kesenjangan komunikasi pasangan, pentingnya menerapkan pola asuh dan pendidikan buah hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *