3R: Rumus Mencontek Pola Bisnis Sukses

Ketika itu saya berada dalam ruangan kampus almamater. Suatu kelas pengarahan masa depan bagi calon sarjana. Apakah mau bekerja atau berwirausaha? Pematerinya adalah orang yang benar-benar berkualitas dari kubu masing-masing. Yang pertama dari HRD perusahaan makanan yang sudah mendunia. Yang kedua dari enterpreneur kuliner. Setelah mereka memaparkan susah senangnya kegiatan mereka, pembawa acara melakukan survey. Ternyata dari kira-kira 100 orang calon sarjana 90% memilih mencari pekerjaan, dan hanya 10% yang menyatakan akan berwirausaha. Hmm… Ada apa ya dengan mereka?
 
Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengungkapkan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini 225 juta jiwa. Di antara jumlah yang besar itu, jumlah pengusahanya sebesar 3,1%. Kabar baiknya jumlah ini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya 1,67%.
 
Meski jumlah wirausahawan meningkat, namun jumlahnya masih kalah dibanding negara tetangga sesama ASEAN. Malaysia jumlah pengusahanya sebesar 6% dari total penduduknya. Sedangkan Singapura 7% persen, dan Thailand 5%.
 
Jumlah peminat wirausaha yang lambat naik ini pasti ada penyebabnya. Tentu banyak alasannya mengapa banyak orang lebih memilih bekerja sebagai karyawan daripada pengusaha. Tapi rata-rata alasan orang-orang belum berrwirausaha adalah sebagai berikut.
 

1. Penghasilan Tidak Pasti

Kadang-kadang penghasilan dari bisnis sangat besar. Ada juga kalanya orderan sepi sehingga penghasilan menurun. Jika terus-menerus tidak ada penghasilan alias rugi, bisa-bisa tidak makan. Berbeda dengan karyawan yang sudah pasti penghasilannya tiap bulan. Hal ini yang menciutkan nyali masyarakat.

2. Tidak Ada Modal

Karyawan memang mendapatkan gaji, tetapi umumnya sudah habis digunakan untuk kebutuhan hidup. Sehingga tidak ada uang tersisa untuk dijadikan modal usaha.

3. Tidak Tahu Harus Berbisnis Apa

Biasanya, orang ingin berbisnis tetapi tidak tahu mau berbisnis apa atau bingung cara memulainya.

4. Jam Kerja Tidak Jelas

Sebagai pengusaha pemula kita diharuskan mengerjakan semuanya seorang diri. Seringkali waktu yang kita gunakan lebih dari 24 jam, berbeda ketika bekerja di kantoran yang lebih teratur dan terjadwal.

Saya menyoroti poin yang ketiga, yakni tidak tahu mau berbisnis apa atau harus mulai darimana. Padahal di era digital seperti sekarang ini membuka bisnis semakin mudah. Modal nekat pun bisa membuka bisnis  secara online untuk sekadar tes pasar. Saya tidak mau dong menjadi bagian dari yang berprofesi sebagai karyawan.  Istilahnya saya harus keluar dari zona nyaman, yang selama ini pasif terima gaji saja. Saya ingin memulai usaha dan target langsung sukses di tahun 2019 ini.

Beberapa waktu lalu saya mendengar tentang website B2B alias business to business, yaitu Ralali.com. Ralali.com adalah online B2B marketplace terbesar di Indonesia dengan lebih dari 15.000 pembeli aktif yang terdiri dari korporasi dan para pelaku usaha dengan volume pembelian yang tinggi (grosir). Terbayang dong ya bagaimana kulakan di Ralali.com, harga pasti murah karena merupakan pusat grosir online. Yang jualan di ralali juga untung, soalnya transaksinya sudah melibatkan lebih dari 15.000 pembeli.

By the way, kalau kamu belum tahu apa itu marketplace B2B, itu adalah marketplace yang menjembatani kebutuhan antar bisnis. Jadi, pihak yang satu membutuhkan produk untuk bisnisnya, dan pihak yang lain memiliki bisnis dengan menawarkan produknya. Misalnya saya pengusaha resto, butuh cangkir, saya langsung cari di Ralali.com karena di sana ada yang menyediakan cangkir grosiran untuk kepentingan bisnis saya.
 
Nah, setelah berjalan-jalan di Ralali.com bisa saya simpulkan pilihan kegiatan bisnis yang akan saya jalankan. Mungkin juga bisa menjadi inspirasi buatmu. Kita bisa ambil peluang usaha menjadi:
 
1. Distributor
2. Juragan produk digital
3. Pengusaha restoran
4. Owner brand sendiri
 

Peluang Bisnis di Ralali.com

1. Distributor

Di Ralali.com ada banyak merek yang dijual grosiran. Kalau bingung memulai usaha apa, cobalah dari menjual produk lain dulu. Dengan kata lain, kita menjadi reseller. Syukur-syukur jika modalnya besar, bisa langsung memposisikan sebagai distributor. Jangan lupa lihat momentum. Misalnya, sebentar lagi bulan puasa, dan passion kita di parenting. Pasti ibu menyusui cari cara agar ASI-nya bisa tetap banyak meski berpuasa. Kita bisa ambil peluang deangan menjual produk pelancar ASI.

Ketikkan pada kolom ‘search’ di Ralali.com dengan kata kunci: ASI. Akan keluar banyak pilihan. Tinggal cari yang kira-kira prospek.

Salah satu produk bermerek yang dijual grosir

2. Juragan Produk Digital

Kita bisa menemukan fitur Ralali Billing. Kita bisa memanfaatkannya untuk membeli pulsa dan paket data, membeli token listrik, membayar tagihan listrik pasca bayar, PDAM, serta BPJS. Selain bisa dimanfaatkan untuk diri sendiri, kita bisa memanfaatkannya sebagai peluang usaha karena harga di Ralali lebih murah daripada di counter pulsa.

Pulsa: Salah satu produk digital di Ralali.com

3. Pengusaha Restoran

Di Ralali.com ada fitur BIG Resto. Ini adalah kategori yag disediakan Ralali untuk yang mau berbisnis kuliner maupun horeca (hotel, resto, dan cafe). Ralali menyediakan paketan yang bisa kita pilih, tanpa bingung lagi harus mulai beli apa. Misalnya, kita akan berbisnis kedai kopi. Tinggal klik paketan kedai kopi, langsung keluar bahan atau alat yang berhubungan dengan kedai kopi. Ada mesin pembuat kopi, grinder, macam-macam biji kopi, dll.

Paketan usaha lain akan segera hadir di Ralali.com, yaitu BIG Home, BIG Auto, dan BIG Mart. BIG Home untuk berbelanja produk konstruksi rumah. BIG Auto adalah kategori belanja produk otomotif. Sedangkan BIG Mart adalah kebutuhan produk-produk grosir.

Tampilan di Ralali.com yang menyediakan kebutuhan kedai kopi

4. Owner Brand Sendiri

Saya pernah dengar cerita seorang pengusaha kaos kaki. Dia kulakan kaos kaki cuma 6 ribu rupiah. Dijual lagi dengan harga 20 ribuan. Tapi pemasarannya kreatif. Target marketnya adalah remaja, sehingga teknik-teknik jualannya menyesuaikan gaya remaja menggunakan kanal instagram. Tak disangka produknya laris banget.

Kemudian saya iseng dong, cari kaos kaki di Ralali.com. Ketemulah kaos kaki hitam putih yang biasa dipakai anak saya. Harganya Rp. 39.000 untuk 1 lusin. Itu berarti harga satuannya Rp. 3.250. Saya beli kaos kaki di koperasi sekolah itu Rp. 10.000. Wow! Untungnya banyak ya? Apalagi kalau dikasih merek sendiri dan dibranding. Bisa-bisa lebih untung lagi.

Nah, kalau kamu mau bikin merek sendiri, di Ralali.com ada banyak peluang. Seperti kaos kaki tadi, juga ada kacang-kacangan, keripik, dll. Banyak produk tanpa merek atau dijual kiloan.

Hasil pencarian dengan kata kunci kaos kaki

3R Untuk Bikin Brand

Banyak pengusaha pemula tanpa repot-repot produksi, tapi punya brand produknya, lalu laris. Instan, bukan? Kalau diamati, pola bisnisnya memakai rumus 3R. Apa itu?

3R = Ralali + Ralali + Ralali lagi.

Hahaha, boleh juga. Pertama, Ralali untuk riset produk. Kedua, Ralali untuk kulakan. Ketiga, Ralali untuk jualan sebagai pemilik merek.

Di sisi lain, ada 3R yang tak kalah penting yaitu:

1. Rename.
2. Repack
3. Reposition

Contoh kasus proses bikin brand sendiri tanpa produksi itu seperti ini. Pertama, misalkan kamu memiliki ide untuk memiliki usaha snack gula kacang karena suka rasanya. Langkah selanjutnya, kamu bukan belajar bagaimana membuat gula kacang yang enak, karena kamu ingin fokus di marketing. Kamu harus mencari pemasok yang menyediakan gula kacang dalam bentuk curah.

Rename. Kamu harus menamai gula kacang dengan suatu merek. Sebutan merek itu usahakan jangan ada yang sama dengan produk lain dan mudah diingat. Tuangkan filosofi ke dalam merek tersebut. Ada alasan mengapa memberi merek seperti itu.

Repack. Hal lain yang harus dilakukan setelah memberi nama atau merek produk adalah repack. Repack berarti kamu harus melakukan pengemasan ulang. Kamu tidak menjual snack dalam kemasan 1 kg yang berbeda, dengan harga dinaikkan. Tetapi kamu membuat berat kemasan yang lebih kecil kemudian mempercantiknya.

Reposition. Kamu menempatkan merekmu sesuai target market. Jika snack curah dijual bebas, siapa saja bisa mengonsumsinya, kamu bisa membuat snack ini hanya untuk orang yang ingin sehat karena dibuat organik tanpa bahan pengawet dan lebih rendah kalori karena memakai gula aren. Dengan demikian tercipta pasar ceruk yang khusus, dan tidak takut bersaing dengan produk snack sejenis.

Lahirlah brand baru yang siap dipasarkan. Nah, itulah contoh simpel cara bikin brand tanpa repot produksi. Tentunya, saya akan mencontek pola seperti itu untuk brand impian saya. Saya jelaskan di bawah ini.

Rencana Bisnis Saya: Madu Klanceng

Saya memilih untuk berbisnis madu. Mengapa? Passion saya di bidang kesehatan. Sedangkan madu adalah penyembuh berbagai penyakit. Siapa sih yang tidak pernah sakit? Mulai dari yang ringan seperti flu, penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, asam urat, maag, dll. Madu merupakan solusi alami untuk penyembuhan segala penyakit. Tapi madu itu terlalu luas. Sampai saya mengenal madu klanceng yang langka dan sekarang sedang naik daun, saya jadi ingin berbisnis madu klanceng. Meski digadang-gadang lagi naik daun, pemainnya tidak banyak.

Langkah pertama saya adalah menerapkan rumus 3R = Ralali + Ralali + Ralali lagi

1.Ralali 1: Riset produk dengan Ralali.com.

Saat memasukkan kata kunci madu, begitu banyak merek madu yang berukuran 100-200 ml dijual dengan harga 50 ribuan. Hal ini menandakan pangsa pasar madu juga besar. Tinggal repositioningnya nanti bagaimana. Di sisi lain, madu klanceng yang bermerek belum saya temukan di sini.

2. Ralali 2: Kulakan dari Ralali.com.

Saya membutuhkan bahan baku, yaitu madu klanceng itu sendiri. Akhirnya saya menemukannya. Harga juga lebih miring dibanding supplier dari luar Ralali.com.

Supplier Madu Klanceng
Supplier Madu Klanceng

Selain bahan baku, saya butuh pengemas. Dalam bayangan saya, saya ingin mengemas di botol kaca dan fliptop. Botol kaca ketemu, bentuknya lucu, heksagonal dan imut. Sedangkan botol fliptopnya tidak ada. Tapi ada solusi dari Ralali.com. Ada fitur yang namanya Ralali Quotation. Fitur ini untuk me—request barang yang belum ada di Ralali.com. Semoga cepat ketemu supplier botol fliptop yang cocok ya.

Tampilan Ralali Quotation
Tinggal isi form request barang

3. Ralali 3: Menjual madu klanceng dengan brand saya sendiri di Ralali.com.

Ya, Ralali menyediakan ruang bagi pemilik merek juga untuk berjualan, terlebih lagi secara grosir. Semoga ada yang melirik sampai deal ya nanti. Laris… Laris…

Langkah kedua saya adalah menerapkan rumus 3R yang satu lagi. Yaitu rename, repack, dan reposition.

  1. Rename. Saya akan memberi ‘baju baru’ pada madu klanceng saya. Madu Klanceng Adnina. Bagaimana? Unik dan mudah diingat, bukan?
  2. Repack. Saya akan mengemas ulang madu klanceng curah ke dalam kemasan 250 ml.
  3. Reposition. Madu Klanceng Adnina akan menjadi madu klanceng premium yang masih aktif enzimnya. Saya akan menargetkan madu klanceng ini untuk dewasa, ibu hamil, dan menyusui.
Mockup Madu Klanceng Adnina

Membuat Rencana Bisnis dengan Business Model Canvas

Untuk memulai usaha, harus benar-benar direncanakan agar risiko yang tidak diinginkan tidak muncul. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menjadi acuan adalah merancang business model canvas. Business model canvas terdiri dari 9 elemen yang harus dikerjakan secara berurutan.

1. Value Proposition

Pertama saya harus membuat gambaran rinci tentang value proposition. Ini adalah hal yang membedakan produk saya dengan produk lain. Keunggulan madu klanceng saya adalah 100% murni, tidak membeku di kulkas, dan harga bersaing.

2. Customer Segments

Tahap selanjutnya adalah merumuskan customer. Customer adalah target market usaha yang bisa ditetapkan berdasarkan umur, jenis kelamin, domisili, dll. Saya menetapkan target market usia dewasa, ibu hamil, dan ibu menyusui.

3. Channel

Elemen ketiga yang harus dirumuskan adalah channel. Dengan apa dan dimana kita  menawarkan produk. Saya memilih menjual melalui Ralali.com, marketplace, sosial media, dan bazaar.

4. Customer Relationship

Customer relationship adalah bagaimana kita melakukan engagement dengan customer. Saya akan melakukan konsultasi gratis, pengadaan kuis, dan pengumpulan testimonial.

5. Revenue

Elemen revenue adalah elemen yang mendeskripsikan sumber pemasukan perusahaan. Sumber pemasukan madu klanceng saya adalah dari marjin penjualan madu klanceng.

6. Key Resources

Di sini kita menjelaskan sumber resources darimana. Macam-macam resources usaha saya adalah bahan baku, SDM, fasilitas, dan finansial.

7. Key Partners

Key partners menjelaskan siapa saja pihak-pihak yang membantu dalam usaha ini. Key partners saya adalah Ralali.com sebagai sumber para supplier, distributor, agen, dan mitra branding sebagai orang yang mendesain kemasan, label dan tampilan madu klanceng.

8. Key Activities

Elemen ini menjelaskan aktivitas-aktivitas yang dilakukan. Aktivitas usaha madu klanceng di awal rintisan nantinya adalah proses produksi, pemasaran digital, dan sertifikasi yang diperlukan seperti izin edar, halal, dan HACCP.

9. Cost Structure

Cost structure adalah gambaran biaya yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Usaha saya akan membutuhkan biaya untuk membeli bahan baku, operasional produksi, dan gaji karyawan.

Begitulah rencana bisnis saya di tahun 2019 ini. Semoga tercapai angan-angan buka bisnis langsung laris. Dan juga semoga bisa menginspirasi kamu yang sudah membaca ini. Ingat, rumus mencontek pola bisnis yang sudah sukses itu cuma 3R, kok!

Be Sociable, Share!
Posted on: February 12, 2019, by : li partic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *