Rumah yang Ramai, Hati yang Sepi

Kesepian paling menyakitkan bukan saat hidup sendiri. Tapi saat punya suami, punya lima anak. Serumah bertujuh. Namun setiap malam, diri ini tetap merasa sedang berjuang sendirian.

Inilah Perempuan Bicara Rasa. Rasa sendiri karena kesepian merasa menjadi perempuan yang harus kuat sendiri. Aku akan bicara hal-hal yang sering disimpan rapat di balik senyum. Tentang luka yang tidak berdarah, tetapi diam-diam menguras tenaga. Saat ingin terlihat kuat, padahal setiap hari sedang berusaha agar tidak runtuh.

Dulu, waktu masih gadis, aku membayangkan pernikahan seperti sebuah pelabuhan. Setelah lelah diterpa ombak kehidupan, akan ada seseorang yang menyambutku dan berkata, “Sini, kita hadapi semuanya sama-sama.”

Ternyata hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita impikan. Aku tidak kehilangan suami. Dia ada. Setiap hari ada. Tetapi ada kalanya yang paling kurindukan bukan kehadirannya, melainkan semangatnya. Semangat untuk berjuang bersama. Semangat untuk berkata, “Biar aku cari jalan. Kita pasti bisa.”

Kadang aku merasa seperti sedang menarik gerobak yang seharusnya ditarik oleh dua orang. Aku terus mendorong. Terus mencari cara. Terus memikirkan bagaimana rumah ini tetap berjalan. Sementara di sampingku, gerobak itu tetap terasa berat. Bukan karena tidak ada bantuan sama sekali. Ada. Hal-hal kecil tetap dibantu, seperti membantu packing pesanan.

Namun hidup tidak hanya membutuhkan tangan yang membungkus barang. Hidup juga membutuhkan seseorang yang mau ikut memikul masa depan.

Aku lelah…

Bukan hanya karena bekerja. Melainkan karena harus menjadi orang yang paling dulu memikirkan solusi.

Kalau aku berhenti berpikir, siapa yang memikirkan biaya sekolah anak-anak? Kalau aku berhenti berjuang, siapa yang memastikan dapur tetap mengepul?

Perempuan itu unik. Saat hatinya remuk, tangannya tetap memasak. Saat pikirannya penuh, dia tetap memeluk anak-anak. Saat ketahuan menangis, dia tetap menjawab, “Bunda nggak apa-apa.”

Padahal, tidak apa-apa itu sering kali hanyalah kalimat yang dipakai agar orang lain tidak ikut khawatir.

Keramaian Palsu

Aku pernah hidup sangat berkecukupan. Pandemi mengubah banyak hal. Sebelum semuanya berubah, aku mengoleksi tas-tas desainer. Sebagian kupakai, sebagian kujual kembali. Saat itu, aku merasa hidup sedang berpihak.

Lalu dunia berubah. Usaha melambat. Tabungan menyusut. Aku belajar bahwa roda kehidupan memang benar-benar berputar.

Lucunya, saat hidup mulai sulit, rasa sendiri yang kurasa di dunia nyata, tiba-tiba teramaikan dengan notifikasi TikTok. Yang masih diingat orang justru video TikTok-ku.

Video ketika aku menunjukkan tas mahal yang kujual. Tak kusangka akhirnya viral. Kupikir orang-orang akan melihat perjuanganku membangun usaha. Ternyata mereka lebih sibuk menghakimi.

“Wajahnya nggak cocok bawa tas semahal itu.”

“Itu pasti palsu.”

“Punya tas puluhan juta kok mobilnya LCGC?”

“HP-nya aja bukan iPhone.”

Ada juga yang menyebut ponselku “HP onde-onde”.

Sempat ngakak sendiri. Tapi ada juga yang membela, “Dia kayaknya pakai Huawei P50 Pro. Belasan juta itu.”

Aku membaca semuanya.

Awalnya sakit.

Lama-lama aku sadar…

Tidak semua orang tahu bahwa Huawei P50 Pro yang kupakai pun bukan ponsel murah. Mereka juga pasti tidak menyadari kalau seseorang bisa memilih mobil sederhana karena lebih penting memutar uang untuk usaha. Masih banyak yang tidak sadar bahwa tas mahal yang mereka lihat adalah bagian dari pekerjaanku saat itu.

Mereka hanya melihat cuplikan. Lalu merasa sudah mengenal seluruh hidupku. Begitulah media sosial. Ramai. Sangat ramai. Notifikasi berdatangan. Komentar ribuan. View jutaan.

Tetapi setelah layar dimatikan, rumah kembali sunyi.

Aku kembali menjadi perempuan yang menghitung pengeluaran. Perempuan yang diam-diam bertanya kepada Tuhan, “Besok cukup nggak ya?” Juga yang sering menangis di sepertiga malam dan memohon, “Ya Allah, Ya Fattah, Ya Ghani, Ya Mughni, limpahkanlah rezeki yang barakah.”

Kadang aku berpikir. Mungkin yang paling miskin bukan orang yang tidak punya uang.

Melainkan orang yang kehilangan tempat bersandar. Karena ternyata, tidak semua perempuan yang bersuami benar-benar ditemani. Tidak semua rumah yang ramai dipenuhi tawa. Dan tidak semua senyum yang diunggah ke media sosial berarti hidupnya sedang baik-baik saja.

Kalau hari ini kamu membaca tulisanku dan merasa sedang mengalami hal yang sama, aku ingin memelukmu dari jauh. Karena aku tahu rasanya. Rasanya bangun pagi dengan kepala yang sudah penuh. Tidur malam dengan dada yang sesak. Ingin menyerah, tetapi wajah anak-anak selalu menjadi alasan untuk kembali berdiri.

Aku tidak tahu kapan hidup akan kembali ringan. Aku juga tidak tahu kapan doaku benar-benar dijawab. Yang jelas, sampai hari ini aku masih bertahan. Bukan karena aku perempuan paling kuat. Tetapi karena lima pasang mata kecil memanggilku “Bunda”.

Hikmah yang Perlahan Kupelajari

Aku belajar bahwa nilai seorang perempuan tidak diukur dari tas yang dibawa, mobil yang dikendarai, atau ponsel yang digunakan.

Nilai seorang perempuan ada pada keberaniannya untuk tetap bangkit ketika hidup berkali-kali menjatuhkannya.

Aku juga belajar bahwa bahagia bukan berarti semua masalah selesai.

Bahagia adalah ketika hati masih mampu bersyukur meski keadaan belum sempurna.

Dan aku belajar, tidak semua doa dijawab dengan jalan yang mudah.

Kadang Tuhan mengizinkan kita melewati jalan yang berat agar kita menemukan versi diri yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya.

Cara Aku Bangkit dari Kesepian

Aku berhenti membandingkan hidupku dengan kehidupan orang lain. Aku mulai menulis semua rasa yang selama ini kupendam. Aku lebih banyak berbicara kepada Allah daripada kepada media sosial.

Aku menyukuri hal-hal kecil yang dulu sering kulewatkan. Tawa anak-anak, kesehatan, kesempatan untuk tetap bekerja, dan harapan bahwa esok masih ada. Aku juga belajar menerima bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Dan yang paling penting, aku berhenti mendefinisikan diriku berdasarkan komentar orang lain. Karena orang bisa salah menilai. Tetapi Allah tidak pernah salah melihat perjuangan hamba-Nya.

Berita Baik

Kalau hari ini kamu membaca tulisan ini sambil menahan air mata, aku ingin menyampaikan berita baik. Musim dalam hidup tidak ada yang abadi. Pandemi berlalu. Kesulitan pun akan berlalu. Kesepian juga tidak akan selamanya tinggal. Selama kita masih mau berusaha, masih mau berdoa, masih mau melangkah meski hanya selangkah kecil setiap hari, selalu ada harapan yang Tuhan siapkan.

Mungkin hari ini kita belum melihat jalannya. Tetapi bukan berarti Tuhan berhenti bekerja.

Dan untuk setiap perempuan yang sedang memikul beban dalam diam. Terima kasih karena masih bertahan, memilih bangun setiap pagi. Tetaplah menjadi ibu, istri, dan perempuan yang tidak menyerah meski berkali-kali ingin berhenti.

Percayalah, suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan berkata, “Ternyata aku bisa melewati semuanya.”

Dan ketika hari itu tiba, semoga luka-luka hari ini berubah menjadi cerita yang mampu menguatkan perempuan lain. Karena itulah Perempuan Bicara Rasa. Bukan tentang siapa yang paling kuat. Tetapi tentang siapa yang tetap memilih bangkit, meski hatinya pernah berkali-kali patah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026

Posted on: July 14, 2026, by : li partic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *