Jenis-Jenis Cacingan Pada Anak dan Dewasa, Gejala dan Pencegahannya

Suatu hari saya melihat si kecil sibuk menggaruk-garuk duburnya.

“Eh, kamu ngapain? Jangan digaruk-garuk nanti tanganmu kena telur cacing.”

“Tapi gatel banget, Bun”

Wah, jangan-jangan si kecil kena cacingan. Soalnya, kan salah satu gejala cacingan gatal-gatal pada dubur.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Di sekolah si kecil dibagikan obat cacing. Tapi ternyata bentuknya tablet. Sedangkan anak saya belum bisa menelan obat yang berbentuk tablet. Oleh karena itu, untuk pencegahan baik itu si kecil memang positif cacingan atau tidak, saya cari obat terbaik di internet. Wow, banyak sekali yang saya dapatkan tentang cacingan ini. Saya akan share melalui tulisan ini ya.

Gejala Cacingan Pada Anak dan Dewasa

Ternyata penyakit cacingan tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Gejala cacingan pada orang dewasa dan anak-anak juga bisa berbeda. Kalau pada anak-anak biasanya kita sering jumpai mereka menderita gatal-gatal di sekitar anus karena cacing-cacing bertelur di sana. Tanda lainnya yaitu terjadi penurunan berta badan.

Sedangkan pada dewasa, gejala cacingan secara umum akan timbul rasa sakit perut, diare, mual, muntah, kelelahan, dan berat badan menurun. Namun secara khusus, gejala cacingan berbeda-beda tergantung penyebabnya karena cacing apa. Berikut adalah jenis-jenis cacing penyebab cacingan dan gejalanya.

Jenis-jenis penyakit cacingan dan Gejalanya

jenis-jenis cacingan

1. Cacing Kremi

Kita mengenal cacingan karenan cacing kremi ini dengan istilah kremian. Cacingan karena cacing kremi ini paling familiar karena sering terjadi. Cacing ini banyak menyerang anak-anak, tetapi bisa juga dewasa. Bentuk cacing kremi sangat kecil, sekitar 2-13 mm. Mereka bersarang di usus besar dan rectum.

Infeksi cacing kremi dinilai tidak berbahaya. Meski demikian, penularannya sangat mudah. Hanya dengan bersentuhan dengan orang yang terinfeksi atau barang-barang yang dimilikinya seperti handuk, kita sudah bisa tertular. Bahkan telur cacing kremi bisa beterbangan karena saking kecilnya sehingga bisa terhirup dan tertelan oleh kita.

Gejala kremian atau cacingan karena cacing kremi:

Ruam, iritasi, gatal di sekitar anus terutama pada malam hari, mual, nafsu makan berkurang, hingga nyeri perut.

2. Cacing Tambang

Cacing tambang bisa menginfeksi manusia dengan tinggal di usus kecil. Penyakit cacingan karena cacing tambang dikarenakan si cacing bisa masuk ke pori-pori kulit lalu naik ke pencernaan. Kalau kita tidak memakai alas kaki bisa berisiko terinfeksi cacing tambang. Apalagi kalau lagi berjalan di area perkebunan atau persawahan yang mana tanahnya gembur, lembap, dan bisa juga tanah berpasir, tanah liat atau humus. Akibatnya timbul ruam kaki sebagai gejala awal.

Gejala cacingan karena cacing tambang:

Diare, anemia, kelelahan, menurunnya nafsu makan, serta penurunan berat badan.

3. Cacing Pita

Cacing pita berbentuk pipih, dapat hidup di usus manusia. Bebrbeda dengan cacing kremi yang tidak begitu berbahaya, cacing pita dinilai berbahaya karena tidak hanya menginfeksi usus, tapi juga bisa organ lain seperti hati dan otak. Masa hidupnya pun lama jika tidak segera ditangani, yakni bisa sampai 30 tahun dan mencapai panjang 15 cm.

Cacing pita bisa masuk ke tubuh manusia karena menelan telurnya yang berasal dari daging mentah hewan yang terinfeksi. Biasanya awalnya cacing pita hidup di dalam tubuh babi dan sapi. Tetapi cacing pita juga terdapat di air yang terkontaminasi telur atau larva cacing pita. Jadi kalau minum air yang tidak dimasak atau kurang matang juga bisa berisiko terinfeksi cacing pita.

Gejala cacingan karena cacing pita:

  • Jika menyerang usus: lemas, mual, diare, nafsu makan berkutang, berat badan menurun.
  • Jika menyerang hati: timbul kista pada hati.
  • Jika menyerang otak: sakit kepala dan kejang-kejang.

4. Cacing Gelang

Cacing gelang berbentuk silindris memanjang, kedua ujungnya meruncing. Penyakit cacingan karena cacing gelang disebut ascariasis. Infeksi cacing gelang ini cukup berbahaya juga karena selain di usus juga bisa menyebar ke organ lain seperti paru-paru dan hati.

Telur cacing gelang ditemukan di tanah yang terkontaminasi tinja manusia. Jika tanah itu ditumbuhi tanaman yang akan dimakan manusia, maka manusia yang memakan bahan makanan tersebut akan menderita ascariasis. Selain itu, jika kita menyentuh tanah yang terkontaminasi telur cacing gelang lalu tidak cuci tangan dulu maka bisa terinfeksi juga.

Telur cacing gelang masuk ke usus bisa juga ke paru-paru melalui aliran darah atau aliran getah bening. Jika sudah di paru-paru selama 10-14 hari, telur bisa menuju ke tenggorokan lalu mengakibatkan batuk-batuk. Selama batuk ini, telur bisa terlempar keluar dan bisa juga tertelan kembali menuju usus.

Gejala cacaingan karena cacing gelang (ascariasis):

  • Jika menyerang usus: lemas, sakit perut, diare, mual, muntah, BAB berdarah, nafsu makan dan berta badan turun, dalam feses dan muntah terdapat cacing.
  • Jika menyerang paru-paru: batuk, sesak napas, demam.

5. Cacing Trikinosis

Penyebab cacingan karena cacing trikinosis adalah karena konsumsi daging mentah yang terkontaminasi. Cacing trikinosis tinggal di usus dan bisa berpindah ke otot.

Gejala cacingan karena cacing trikinosis:

Kram pada perut, mual dan muntah, diare, mudah capek, nyeri sendi dan otot, demam, wajah bengkak, serta sensitive terhadap cahaya.

6. Cacing Pipih

Penyakit cacingan karena cacing pipih ditularkan melalui air mentah dan sayuran mentah seprti selada air. Cacing pipih biasanya tinggal di usus dan organ lain.

Gejala cacingan karena cacing pipih:

Demam, menggigil, lemas, letih, nyeri otot, diare, batuk-batuk, dan sesak napas.

Pencegahan Cacingan

Pencegahan cacingan tergolong mudah. Tinggal kita lihat penyebabnya apa, maka hindari hal-hal yang menjadi pusat penularannya. Jadi, kita bisa lakukan hal-hal berikut untuk mencegah cacingan, setelah melihat jenis-jenis cacingan dan penyebabnya yang telah dipaparkan sebelumnya.

  1. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan.
  2. Makan makanan yang dimasak hingga matang, baik itu daging, sayuran, dan air minum.
  3. Pakailah alas kaki terutama ketika berjalan di tanah.
  4. Cucilah tangan sebelum makan, setelah buang air, dan dari luar rumah.
  5. Minum obat cacing setiap 6 bulan sekali.

Konvermex Obat Cacing Keluarga

Jika Anda mencari obat cacing untuk anak maupun obat cacing orang dewasa, maka Konvermex jawabannya. Karena memang Konvermex obat cacing keluarga. Bisa diminum siapa saja oleh seluruh anggota keluarga, baik itu dewasa maupun anak-anak. Lebih bagus lagi kalau seluruh keluarga dijadwalkan minum Konvermex bersama, sehingga pencegahan cacingan lebih baik lagi. Ayah, ibu, anak-anak, bahkan sampai ART (asisten rumah tangga) yang bekerja di rumah pun wajib minum Konvermex untuk mencegah maupun mengobati cacingan. Yang dewasa bisa minum Konvermex 250, sedangkan anak-anak bisa minum Konvermex 125. Untuk sediaannya, bisa disesuaikan dengan favorit keluarga, ada yang berbentuk suspensi (sirup), tablet, dan juga kaplet. Lebih tepatnya, Konvermex tersedia dalam kemasan:

  • Suspensi 125 mg untuk anak – anak di bawah 12 tahun
  • Suspensi 250 mg untuk dosis dewasa
  • Tablet 125 mg untuk dosis anak
  • Kaplet 250 mg untuk dosis dewasa

Mencegah cacingan dengan obat cacing bisa dilakukan 6 bulan sekali. Jadi, rutin minum Konvermex tiap 6 bulan sekali dapat mencegah cacingan. Bahan aktif dalam Konvermex adalah pirantel pamoat. Dengan demikian Konvermex menghancurkan cacing di tubuh.

Kalaupun dalam tubuh sudah terinfeksi cacing membasminya tergolong mudah. Tinggal minum Konvermex, beres. Karena mengobati cacingan itu lebih mudah jika dibandingkan mengobati kutu di kepala. Apalagi Konvermex bisa digunakan untuk megobati berbagai jenis cacingan. Cacing kremi, cacing pita, cacing gelang, dan apapun dilibas habis sama Konvermex.

Konvermex Anak

Uniknya, takaran Konvermex ini dijual untuk sekali pemakaian. Jadi karena pemakaiannya sangat jarang, yakni 6 bulan sekali, dosisnya dibuat pas. Kita tidak perlu menyimpan kelebihan obat. Contohnya pada anak saya yang usianya 7 tahun. Umur segitu cukup minum 1x dosis habis dalam 1 botol yang hanya berisi 10 ml. Konvermex dalam sediaan sirup ini ada 2 varian rasa yaitu vanilla dan jeruk. Saya pilih rasa jeruk, dan tidak ada perlawanan dari si kecil. Maksudnya dia berhasil minum tanpa tutup mulut atau banyak kabur. Sedangkan kalau dewasa bisa minum kaplet Konvermex yang mengandung 250 mg pirantel pamoat.

Nah, gimana Bunda? Setelah baca artikel ini bergidik ngeri atau malah semangat menghindarkan keluarga dari cacingan? Yang penting kita harus menyadari penyakit cacingan ini sejak dini ya. Jangan sampai terlambat memberi obat cacing untuk keluarga setiap 6 bulan sekali.

Ayo saling jaga! Jaga keluarga dari cacingan dengan melakukan langkha-langkah pencegahan, dan rutin minum Konvermex 6 bulan sekali.

Semoga bermanfaat, ya!

Be Sociable, Share!
Posted on: November 29, 2021, by : li partic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *