Review Film Athirah: Move On-nya Seorang Ibu

Menyenangkan sekali saya bisa nonton bareng MPPRO di Jakarta, Film Indonesia yang sangat saya nantikan, katanya bagus sih. Di Sidoarjo sendiri per hari ini belum keluar nih. Athirah. Film yang menceritakan tentang cinta dalam keluarga. Saya hari itu, Jumat 1 Oktober 2016 terbang pagi hari ke Jakarta, dan Malamnya dengan nekat saya naik Gojek menuju Metropole XXI. Ehm, hampir sama ya dengan pemeran-pemeran film Athirah, pagi 1 Oktober baru datang dari Makassar, malamnya nobar ^_^

Anak dan bayi saya titipkan untuk diasuh suami. Demi apa coba kalau bukan nonton bareng, momen yang sangat jarang saya lakukan. Karena kemanapun saya akan selalu membawa anak-anak saya. Termasuk blogger gathering, job review dll. Tapi kali ini saya harus pergi sendiri. Pertama, nggak mungkin anak-anak nonton film bukan anak-anak, takut bikin berisik juga, karena mereka aktifnya minta ampun. Kedua, suami saya sangat lelah buat nemenin, pengennya di penginapan ajah. Ketiga, Jakarta pasti macet, kalau naik taxi bisa sampai jam berapa? Jadi alternatfnya harus ngojek nih. 20 menit sampai.

Emang ke Jakarta khusus buat nonton Athirah? Nggak sih, sebenarnya saya lagi berpartisipasi dalam event Mother & Baby Fair di Balai Kartini. Biar ASI Booster Tea dan Rufani Crunchy dikenal lebih banyak orang. Acara nobar Athirah ini pas banget pas saya ada di Jakarta. Sekalian deh. Kopdar sama teman satu komunitas dan kopdar bareng Kopiers. Thanks to KOPI!

Pemeran film Athirah ini sudah senior sehingga menambah feel dalam film ini. Sebut saja Cut Mini sebagai Athirah dan Jajang C. Noer sebagai ibu Athirah. Saat itu hadir juga Jajang C. Noer dan Nino pemeran Ucu dewasa. Ada juga Cut Mini yang datang setelah film selesai.

Film Athirah mengisahkan tentang Ibunda Jusuf Kalla yang bernama Athirah, terutama perannya dalam mengurus keluarga, menjaga keluarga, hubungan dengan anak-anaknya, hubungan dengan suaminya, dan hubungan dengan masyarakat. Dari film ini saya mengetahui agaknya poligami sudah menjadi tradisi masyarakat Bugis. Mengapa? Karena Athirah sendiri merupakan anak dari seorang ibu yang merupakan istri keempat suaminya. Sedangkan Athirah sendiri diceritakan menghadapi masalah poligami suaminya karena ia istri pertama. Semua diceritakan dari sudut istri pertama, Athirah sendiri.

Kebaperan dimulai

Athirah diceritakan sedang hamil lagi. Rasa baper dimulai ketika film menunjukkan ‘adegan ranjang’. Hihihi jangan salah tangkap ya. Maksudnya, di dalam kamar, bahkan di ranjang pun sepasang suami nyuekin istrinya. Gelagat ini pasti ditunjukkan oleh suami yang sudah menaruh perasaan pada wanita lain. Bayangkan si suami ini setiap tidur bukannya memeluk istrinya melainkan memunggunginya. Padahal kan istri yang lagi hamil itu butuh pelukan. Bahkan pelukan sesering  mungkin setiap hari. Biar apa? Biar hormon endhorphin yang menenangkan itu keluar. Penting banget bagi bumil!

Masyarakat kepo dibiarkan menggantung

Kita sebagai masyarakat yang pengen tahu banget urusan orang, gagal mengetahui urusan rumah tangga orang di film ini. Hihihii.. Gini. Biasanya kan kalau ada orang kawin lagi kita kan pasti bertanya-tanya. Eh, siapa sih istri keduanya? Cantikkah? Kok bisa sampe kawin lagi?

Kekepoan itu wajar untuk film ini, apalagi di sini Athirah digambarkan sebagai sosok yang super. Cantik, pandai mengurus keluarga, care sama suami. Kok bisa ya tertarik sama wanita lain lagi? Tapi rasa ingin tahu itu terus dibiarkan sebagai rasa penasaran. Sebab adegan ‘ketemon’ kalau punya istri lagi, istri barunya itu ga muncul. Begitu juga saat di suatu event ketemu si suami bersama si istri yang lain, yang diperlihatkan hanya suaminya saja. Puang Haji.

Drama Sakit Hati

Biasanya adegan pertengkaran itu diperlihatkan dengan adegan cekcok mulut. Seperti dalam Film  Sabtu Bersama Bapak, ada permasalahan rumah tangga, bertengkar ya dengan dialog. Athirah menghadirkan sesuatu yang beda. Gambaran kesedihan, sakit hati, cukup dengan perlakuan dan sikap. Tanpa caci maki, teriak-teriak. Saat Athirah tahu Puang Haji menikah lagi, dia cukup memunggungi suaminya. Dengan memunggungi kurang menggigit bagi suaminya, Athirah pun mengemaskan koper dan diserahkan pada sang suami. Gitu ya sang suami kok nurut, nggak bantah, nggak apa. Pergi aja gitu. Yang jelas semua adegan yang menggambarkan perasaan digambarkan diam seribu bahasa. Dramatis sekali. Namun lawan main paham, penonton tetap mengerti.

Move On

Sakitnya patah hati dan kecemburuan jadi satu, mengakibatkan wanita berlarut-larut dalam tangisan. Ada yang bergegas bangkit. Ada juga yang melampiaskan pada dendam. Malahan beberapa wanita yang bercerai menunjukkan kepada dunia dia bisa mandiri tapi dengan jalan yang salah. Misalnya lebih banyak dugem, melepas jilbab (mungkin karena merasa dengan jilbab ia tak bebas berbuat ‘dosa’). Athirah lebih memilih bangkit. Ia mengutamakan bersatunya keluarga. Ia tetap  bertahan sebagai istri pertamanya, tidak menuntut cerai. Ia lebih kepada menarik hati suaminya kembali.

Athirah sempat tergoda dengan magic. Tapi karena takdir, ia bisa selamat dari perlakuan syirik itu dengan melampiaskan pada hal religius. Karena Keluarga Kalla terkenal dengan kereligiusannya. Akhirnya ia tutup sakit hatinya dengan berbisnis. Athirah tak sendirian. Ia turut memberdayakan wanita-wanita Bugis dalam bisnisnya.

Ada pola yang sama dalam film ini. Setiap hatinya tersakiti, ia selalu memiliki ide yang baru untuk bisnisnya. Apakah Athirah memikat hati suaminya dengan bisnisnya? Ternyata tidak, ia punya strategi lain. Apa itu? Lihat yuk di bioskop!

Nikmati #FilmAthirah di bioskop-bioskop malam ini dan temukan cinta #Athirah untuk keluarga Indonesia.

A post shared by Miles Films (@milesfilms) on

Tawa, Kuliner, dan Wisata

Tak hanya kesedihan yang ditunjukkan dalam film ini. Kisah cinta remaja Jusuf Kalla juga punya bumbu tawa. Selain itu, kuliner yang dipamerkan setiap keluarga makan bikin saya menelan air liur berkali-kali. Namun, kuliner yang ditunjukkan serasa monoton. Samaaa semua setiap hari. Ada lagi hal menarik yang ditunjukkan dalam film ini, yaitu wisatanya. Kemurungan JK saat hampir patah hati dibandingkan dengan air terjun Bantimurung yang tidak bikin murung.

Hal yang saya setuju dan tidak setuju

Athirah mengangkat film dari sudut pandang wanita yang dimadu. Bagaimana perasaannya saat tersakiti, bagaimana rasanya ia cemburu. Nah, baiknya nih, bapak-bapak yang bercita-cita punya istri lebih dari satu, pesan saya jangan lebih dari empat yah. Dan kalau sudah ada niat, utarakan sama istri pertama dan masih satu-satunya sebelum nikah lagi. Biar sakitnya gak terlalu. Pernikahan kedua dan seterusnya sih sah, tapi menipu istri sebelumnya namanya kalau ujug-ujug udah ada kabar kawin lagi. Lebih-lebih kabarnya didengar dari orang lain, bukan si istri sendiri yang langsung tahu dari suami.

#FilmAthirah menurut @AniesBaswedan. Bagaimana menurut kamu? Tonton film #Athirah di bioskop hari ini.

A post shared by Miles Films (@milesfilms) on

Kisah poligaminya Puang Haji memberi hikmah negatif yaitu dampak buruk poligami pada keluarga. Apalagi anak-anaknya ikut membenci bapak sendiri. Masyarakat pun menilai jika si bapak poligami, maka bukan tak mungkin anak-anaknya demikian. Di akhir cerita penonton seakan-akan digiring untuk mengata-ngatai Puang Haji sekaligus terharu akan perbuatan mulia Athirah.

“Kapok kon yooo. Gak malu apa?”

“Ya Allah, mulia banget hatinya. Sudah tersakiti, masih membaiki.”

Begitulah gambarannya. Akhir cerita apa yang dimaksud? Ayo segera tonton!

Namun dibalik semua itu, perkataan Puang Haji ada benarnya. Jika waktunya bersama keluarga masih ada, nafkah tetap diberikan, tetap menjadi imam shalat, tetap menjaga shalatnya anak-anak, apa yang harus membuat marah?

Ah, sudahlah ayo segera nonton di bisoskop terdekat, teru sharing di kolom komentar di bawah ini.

Sosok Athirah asli.

 

Temukan dimana diriku? 😆😆😆 #athirah #filmathirah #DukungFilmIndo #Mpproajaknobar

A post shared by Li Partic (@lipartic) on

 

#Mpproajaknobar #DukungFilmIndo #filmathirah #athirah

A post shared by Li Partic (@lipartic) on

 

#DukungFilmIndo #athirah #Mpproajaknobar

A post shared by Li Partic (@lipartic) on

 

Ketemu Mbak Kiki setelah sekian tahun… 😆😆😆 #Mpproajaknobar #athirah

A post shared by Li Partic (@lipartic) on

 

Be Sociable, Share!
Posted on: October 4, 2016, by : li partic

One thought on “Review Film Athirah: Move On-nya Seorang Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *