Inilah yang saya rasakan setelah hijrah. Kamu juga bisa, #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia

It's time to Hijrah

Tatkala mengerjakan dunia lelah, berarti jiwa butuh ibadah. Jangan senang dulu saat mendapatkan rezeki singgah, karena belum tentu berkah. Tapi jangan putus asa saat semua tak lagi mudah. Jika kau berpindah dari yang buruk ke yang baik, derajatmu akan naik Insya Allah. #AyoHijrah!

Pengalaman Nyata

Tak disangka kesuksesan yang saya raih di awal adalah kesuksesan semu karena riba. Pengalaman ini memantapkan saya berhijrah.

5 Tip Hijrah

Kesuksesan setelah berhijrah dalam pengalaman saya dipengaruhi oleh 5 hal. Saya bagikan tipnya pada Anda.

#AyoHijrah Bersama Bank Muamalat

Per 8 Oktober 2018 Bank Muamalat mengampanyekan gerakan #AyoHijrah. Apa itu? Baca selengkapnya di artikel ini.

“Dik, kamu mau kerja di mana?”

“Ya, tergantung yang nerima. Kemarin aku sudah masukkan lamaran ke perusahaan farmasi.”

“Cuma satu saja?”

“Iya.”

Itulah obrolan saya dengan calon suami 10 tahun lalu. Sebenarnya saya malas berdebat tentang masalah karir. Sehingga saya bilang saja sudah melamar pekerjaan. Padahal saya punya impian menjadi pengusaha. Mindset calon suami saya berbeda, ia sudah didoktrin bekerja itu sukses. Menjadi pegawai negeri itu enak, digaji sampai mati. Sementara saya punya impian lain. Saya ingin punya rumah lebih luas, pergi haji, mengumrohkan semua anggota keluarga, menyekolahkan anak di sekolah yang bagus jika punya anak nanti. Semua itu akan terwujud jika menjadi pengusaha sukses, yang penghasilannya tak terbatas.

Jalan pun terbuka. Papa saya melihat iklan peluang usaha di sebuah tabloid bisnis. Melihat analisisnya, beliau tertarik dan memaparkannya pada saya. Potensi keuntungan yang puluhan juta membuat saya tertarik juga. Saya pun terpaksa siap menjalankannya meski bukan passion saya. Toh pengoperasiannya gampang, labanya besar.

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah modal usaha. Meski cara menjalankannya mudah, bisnis itu perlu modal besar, tepatnya 30 juta. Dilalah, jalan terbuka lagi. Papa ada ide untuk meminjam dana dari bank dengan fasilitas pensiunnya. Tak memakan waktu lama, dana pun diterima. Terima kasih papa.

Awalnya saya pikir setelah menerima uang, saya bisa bernapas dulu. Ternyata per bulan depannya sudah harus mulai cicilan pertama. Ya Tuhan. Saya harus kerja keras selama sebulan untuk mengencangkan transaksi pembelian. Bisnis yang saya pilih ini untungnya kecil, tapi kalau banyak orang yang melakukan pembelian, labanya akan terasa.

Alhamdulillah, hari demi hari saya lakoni. Reseller bertambah banyak. Omset saya sebulan bisa mencapai 10 juta. Lumayan untuk membayar cicilan dan kehidupan sehari-hari. Hanya perlu kerja lebih keras lagi. Bahagia, tapi tersiksa. Terlebih saat menjalani bisnis ini saya sudah menikah, tetapi harus berpisah jarak dengan suami yang bekerja di luar kota.

Tahun berikutnya, saya baru merasakan ada transaksi yang merosot. Banyak reseller tidak aktif. Padahal kegiatan pemasaran masih terus dilakukan. Saya merasa berat membayar cicilan. Apalagi kebutuhan bertambah. Saya harus membayar biaya persalinan anak pertama saya, biaya aqiqah, membeli popok, dan perlengkapan bayi lainnya. Saya stres. ASI pun keluar hanya sedikit. Mungkin karena kebanyakan pikiran. Ya Allah, Ya Razaq, tak cukupkah saya saja yang kelaparan? Jangan Kau beri lapar anak hamba dengan mengurangi ASI ini ya Allah. Ya, Allah apakah ini ujian-Mu?

Inilah titik terpuruk dalam hidup saya. Mungkin ada yang lebih parah. Tapi ini saja saya sudah merasa berat. Bukankah Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya? Antara yakin dan tidak yakin, saya sudah tidak tahu berbuat apa lagi. Yang ada, saya hanya melanjutkan rutinitas seperti biasa tanpa mengenal rugi atau tidak. Yang penting bisa hidup. Fokus saya sekarang adalah menambah ASI bagi bayi. Gonta-ganti kapsul, vitamin, tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya saya merasakan ramuan Madura, puji syukur langsung terasa khasiatnya. ASI bertambah banyak dari yang cuma  tetes-tetes sampai menjadi setengah botol.

Di sela-sela pekerjaan saya yang akrab dengan server komputer, saya sambil berselancar di facebook. Tak sengaja saya menemukan kalimat yang menohok semacam berikut (saya tulis ulang dalam bentuk ilustrasi).

Riba menjadi kata yang saya sorot. Benarkah yang saya lakukan ini karena jeratan riba? Betulkah ini hukuman dari Allah? Padahal setahu saya waktu zaman SD dulu, guru agama saya bilang riba hanya milik yang meminjamkan karena memakan bunga. Sedangkan peminjam tidak berdosa karena keadaannya terpaksa. Tapi kemudian rasa penasaran saya mengusik, sehingga saya mencari tahu lebih dalam dan menemukan hadits berikut.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Deg! Jadi itu ternyata? Jadi saya melakukan pinjaman yang salah? Tentulah saya harus move on dari sini. Saya harus cepat melunasi pinjaman riba itu.

Tak putus asa, terlintaslah ide mengomersialisasikan jamu yang saya minum. Bukan tanpa riset, saya melakukan tes pasar terlebih dahulu lewat media sosial. Dengan beberapa penambahan bahan, saya luncurkan jamu pelancar ASI saya itu. Saya mengklaimnya sebagai teh pelancar ASI pertama di Indonesia. Karena memang belum ada yang memproduksinya saat itu.

Aktivitas bisnis saya mulai dari nol lagi. Tentu tak semudah yang orang kira. Karena pertama kali pasti orang tak mudah percaya begitu saja akan khasiat jamu saya. Maka, saya cobakan pada beberapa orang kenalan dan meminta testimonialnya. Tak disangka mereka memberi testimonial yang positif. Tak hanya berhenti di situ saja, mereka merekomendasikan jamu saya ini kepada kenalannya sehingga tak terasa pemasarannya pun menjadi viral. Pemasaran ini disebut word-of-mouth yaitu pemasaran yang tak sengaja dibicarakan dari mulut ke mulut sehingga lama-lama produknya bisa terkenal.

Melihat positifnya penerimaan produk di masyarakat saya pun memberanikan diri untuk mengikuti lomba-lomba bisnis. Alhamdulillah pada lomba bisnis pertama yang pernah saya ikuti, saya keluar menjadi juara pertamanya. Tak tanggung-tanggung saya pun mendapatkan uang 15 juta rupiah. Lumayan sekali untuk tambah modal dan membayar cicilan. Kompetisi-kompetisi bisnis lainnya juga saya ikuti. Siapa tahu bisa untuk menambah modal lagi. Selain itu, jika menjadi pemenang teknik ini akan menjadi aktivitas branding dalam mengenalkan produk saya lebih luas lagi ke masyarakat. Hasilnya pun ada. Walaupun saya tidak keluar sebagai pemenang utama, saya banyak diliput oleh berbagai media. Bagaikan efek domino, omset penjualan saya pun meningkat.

Allah masih sayang. Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Perlahan saya ditunjukkan jalan keluar yang sesungguhnya. Dari yang awalnya laku cuma satu dua buah, lama-lama menjadi puluhan per bulan, lama-lama lagi menjadi ratusan per bulan, dan hingga kini bisa laku lima ribuan buah per bulan. Omset saya terus meningkat. Saya pun bisa menutup utang dengan lunas. Saya pun terbebas dari jerat-jerat riba.

Liputan Saya dan Bisnis Saya di Media Cetak

5 Tip Hijrah Hingga Sukses

Ada orang bilang ‘Percayalah, begitu keluar dari riba kamu akan mendapatkan rezeki pengganti yang lebih diridhoi Allah dan lebih banyak hasilnya’. Silahkan kalian percaya, tapi tentunya harus ada usaha juga di baliknya. Inilah tip-tip dari saya.

1. Niat Taubat

Berhijrah menjauhi riba dimulai dari niat untuk bertaubat. Kita ini manusia yang gampang terbolak-balik hatinya. Terkadang kita lupa tujuan kita untuk meninggalkan riba, terkadang kita masih ingin ikut-ikutan untungnya tiba, terkadang juga kita lengah akan adanya riba di sekitar kita. Untuk itu diperlukan niat yang kuat. Jika sudah ada niat pasti kita akan bersungguh-sungguh.

Pasti selalu ada jalan jika sudah diniatkan untuk menjauhi riba. Allah akan memberikan jalan. Misalnya pada contoh kasus bisnis saya. Pasti tidak ada yang menyangka saya dapat ide dari mana. Tapi itu Itulah hidayah yang Allah berikan.

2. Pelajari Sejarah Riba

Jika masih tergoda juga dengan riba, pelajarilah sejarah riba. Mungkin kita bisa menyadari betapa merugikannya riba. Sebenarnya aturan tentang riba ini tidak hanya ada dalam Islam, tetapi sejarah terdahulu dan agama-agama lain juga menceritakan tentang kerugian riba.

Salah satu contoh agama yang hadir lebih dahulu sebelum Islam yaitu Yahudi, memiliki peraturan yang menyebut bahwa riba itu terlarang untuk kaum Yahudi tetapi boleh untuk orang di luar kaumnya. Hal ini karena orang Yahudi tahu bahwa riba itu benar-benar merugikan. Gereja pada abad pertengahan juga pernah menentang keras masalah riba. Para penganut kristen yang melanggar dikenai hukuman berat.

Selain dari sisi agama, kita bisa tengok sejarah masa lalu mulai sekitar 3700 tahun lalu. Penguasa Babilonia yaitu Hammurabi (1848-1805 SM) pernah melarang praktik riba. Ada hukuman berat bagi yang melanggarnya. Namun kemudian aturan ini direvisi sehingga hal bunga-berbunga tetap dibolehkan asal tidak lebih dari 1% per bulannya.

3. Buat Rencana

Buatlah rencana selama 1 tahun. Mulai dari membuat business plan. Segala perencanaan pemasaran, perencanaan keuangan, perencanaan produksi kerjakan dengan disiplin.

Namun, menjadi sukses jauh dari riba dan menambah rezeki yang halal tidak hanya dari berwirausaha saja. Rezeki bisa datang dari mana saja. Contohnya, karena gaya hidup, seseorang yang bergaji 20 juta per bulan merasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia terbiasa dengan utang kartu kredit. Kemudian ia bertekad untuk meninggalkan kebiasaannya berbelanja dengan kartu kredit. Ia menata rencana keuangannya dan menahan nafsu belanjanya. Akhirnya ia bisa menabung sedikit demi sedikit dan bisa berangkat umroh setiap tahun. Jadi buatlah rencana, setelah memutuskan rantai riba di kehidupan kita, apa yang akan kita lakukan?

4. Kerja Keras

Jika mulai dari nol lagi khususnya dalam hal bisnis, tetap pegang teguh prinsip kerja keras. Kita harus merasa tidak aman, masa depan masih jauh dan banyak hal baru yang harus dipelajari. Saat sudah sukses pun, kerja keras harus tetap dipertahankan. Jangan pernah merasa menjadi sudah hebat, sudah kaya dan pengetahuannya paling banyak. Kita harus tetap merasa bodoh dan butuh hal-hal baru atau mengulang hal-hal yang sudah pernah dipelajari. Ini penting untuk memunculkan inovasi-inovasi baru.

5. Pilih produk perbankan yang bebas riba

Rezeki dan keuangan erat kaitannya dengan bank. Misalnya untuk menabung, berinvestasi, maupun dalam pembiayaan tertentu. Agar tenang, kita harus memilih produk perbankan yang bebas riba juga. Pilihlah bank syariah. Insya Allah Bank Muamalat Indonesia menjawab semua kebutuhan perbankan kita karena murni syariah.

#AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia

Bank Muamalat Indonesia adalah pelopor bank syariah di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1992. Insya Allah kemurnian syariah terjaga, karena Bank Muamalat tidak menginduk pada bank lain. Kalau menginduk pada bank lain ada kemungkinan uang yang dikelola secara riba dan non riba bercampur. Selain itu, pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Pada 8 Oktober 2018, Bank Muamalat meluncurkan gerakan #AyoHijrah. Hijrah maksudnya berpindah menjadi lebih baik. #AyoHijrah adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama selalu meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga merupakan jalan hidup (way of life) sehingga #AyoHijrah juga mengajak untuk menjalani hidup sesuai tuntunan Islam yang baik dan berkah. Sejalan dengan itu, Bank Muamalat melalui kampanye #AyoHijrah mengajak masyarakat untuk berhijrah dalam hal layanan perbankan (pengelolaan keuangan) dengan memanfaatkan layanan perbankan Syariah untuk hidup yang lebih berkah.

Bank Muamalat memiliki visi sebagai pusat ekosistem ekonomi syariah dan turut menyokong industri halal di Indonesia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. #AyoHijrah diharapkan ada peningkatan kualitas diri, baik secara individu maupun organisasi, untuk semakin kaffah menjalankan syariat Islam, khususnya dalam konteks layanan perbankan syariah. Cita-cita yang hendak diwujudkan oleh Bank Muamalat adalah menyetarakan pertumbuhan nasabah bank syariah agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim.

Kampanye #AyoHijrah tidak sebatas layanan produk perbankan saja, tetapi juga mengadakan kegiatan lain seperti:

  • Seminar / edukasi tentang perbankan Syariah
  • Open booth di pusat kegiatan masyarat
  • Kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama
  • Pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan Syariah

Produk Perbankan Bank Muamalat Indonesia

Bersamaan dengan grand launching #AyoHijrah, produk layanan Bank Muamalat juga berhijrah. Hal ini dilakukan untuk memberikan layanan yang lebih berkah pada nasabah. Nama-nama baru itu adalah:

Tabungan iB

Hijrah

Untuk menabung dan kebutuhan transaksi belanja

Bebas biaya tarik tunai di jaringan Prima/Bersama, jika saldo setelah penarikan minimal 5 juta (max 10x/bulan)

Bebas biaya realtime transfer melalui Mobile/Internet Banking Muamalat

Ada akad mudharabah dan wadiah

Setoran awal mulai Rp. 25.000

Tabungan iB

Hijrah Haji dan Umrah

Bank Muamalat adalah Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH), yang terdaftar di SISKOHAT Kementerian Agama Republik Indonesia

Dapat kartu debit shar-E untuk transaksi ATM dan belanja seluruh dunia.

Tidak dikenakan biaya administrasi ataupun biaya pemindahan dana ke rekening Tabungan iB Hijrah Haji.

Lebih banyak bonus dan hadiahnya, dapat perlengkapan haji.

Nasabah berkesempatan mendapat hadiah umrah bebas biaya (program Rezeki Haji Berkah) selagi menunggu keberangkatan haji selama periode program berlangsung.

Tabungan iB

Hijrah Rencana

Untuk perencanaan pendidikan, pernikahan, perjalanan ibadah/wisata, uang muka rumah/kendaraan, berkurban saat Idul Adha, perpanjangan STNK/pajak kendaraan, persiapan pensiun/hari tua, serta rencana atau impian lainnya.

Setoran ringan mulai 100.000

Tanpa administrasi bulanan

Jangka waktu menabung fleksibel mulai 3 bulan hingga 20 tahun

Mendapatkan Asuransi Takaful Keluarga

Tabungan iB

Hijrah Prima

Untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis sekaligus investasi

Setoran awal 5 juta

Akad Mudharabah Mutlaqah

Bebas biaya* realtime transfer, SKN dan RTGS apabila Saldo Rata-rata (SRR) minimal Rp 100 juta.

Tabungan iB

Hijrah Prima Berhadiah

Untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis sekaligus investasi

Fasilitas Shar-E Debit Gold

Bebas biaya* realtime transfer, bebas biaya SKN dan RTGS

Bebas biaya airport lounge* untuk memenuhi kebutuhan perjalanan

Deposito iB

Hijrah

Deposito syariah dalam mata uang Rupiah dan US Dollar yang fleksibel dan memberikan hasil investasi yang optimal

Jangka waktu fleksibel, yaitu 1, 3,6 atau 12 bulan

Minimal saldo rekening Rp. 5 juta atau USD 1.000

Giro iB

Hijrah

Untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis Nasabah Non-perorangan yang didukung oleh fasilitas Cash Management.

Akad Wadiah

Tersedia dalam 3 jenis mata uang : IDR,USD, dan SGD

Setoran awal perorangan Rp. 500 ribu

Setoran awal non-perorangan Rp. 1 juta

Pembiayaan Rumah iB Hijrah

Angsuran Super Ringan dan Fix and Fix

Masih dalam proses pengajuan kepada Regulator/OJK

Itulah pengalaman saya dalam berhijrah memerangi riba. Kalau kamu belum mulai, #AyoHijrah. Segera pindah ke sistem non-ribawi. Pelajari layanan Bank Muamalat Indonesia dengan klik tombol-tombol media sosialnya di bawah ini.

Be Sociable, Share!
Posted on: May 3, 2019, by : li partic

6 thoughts on “Inilah yang saya rasakan setelah hijrah. Kamu juga bisa, #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia

  1. Saya malah suka kalau punya papa yg mendukung buat usaha soalnya itu impian saya sejak lulus kuliah. Sayangnya papa saya merasa bekerja itu lebih aman tiap bulan ada penghasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *